"Sebagai minoritas, saya harus sadar ketika semua tempat makan tutup. Saya berpikir ada satu bulan yang berbeda dari yang lain dan saya jadi ikut mengontrol diri saya," kata Igor. "Belajar menghargai lah," tuturnya.
Igor juga mengaku belajar dari sahabatnya mengenai makna agama Islam. Ia melihat beberapa konsep secara global. Igor bahkan melihat persamaannya dengan Indonesia, yaitu menghargai perbedaan. Seperti konsep Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukan hanya sikap dan perilaku, kebiasaan makannya pun ikut berubah selama Ramadan.
Seperti diketahui, bulan puasa memaksa para pedagang makanan tutup selama siang hari atau memasang tirai agar tidak tampak dari luar. Itu membuat Igor berpikir dua kali untuk makan siang di luar. Ia bahkan sering ikut berpuasa makan atau lebih memilih makan di rumah.
"Puasa juga bagus, misalkan saya ingin turun berat badan, pola makan saya ikut ketahan," kata pria bertubuh tambun itu sambil tertawa.
(rsa/rsa)