Film indah ini tak ubahnya mutiara yang lama mendekam dalam cangkang. Sejak tayang perdana pada 2008, agaknya baru kali ini ditayangkan lagi sebagai bagian dari perayaan 45 tahun TIM.
Bila merunut ke belakang, sejatinya si mutiara mendekam jauh lebih lama lagi di cangkangnya. Butuh 17 tahun bagi film Kantata Takwa untuk bisa dipertontonkan di muka publik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di film garapan Eros Djarot dan Gotot Prakosa ini, kelimanya menyuarakan pandangan masing-masing seputar musik, filosofi, dan seni yang terbilang inggil. Di balik gaya urakan mereka, kata-katanya bermakna.
Film ini menampilkan lagu-lagu andalan, yakni Kesaksian, Paman Doblang, Kantata Takwa, Air Mata. Juga lagu-lagu dari album Swami—proyek lain personel Kantata Takwa—yaitu Bento, Bongkar, Cinta, Hio.
Rendra, si Burung Merak, punya andil besar membungkus sajian musikal grup band ini dengan aksi teatrikal yang mumpuni. Ia, antara lain, membawakan Sajak 1990 yang sarat kritik sosial.
“Apa artinya kekayaan alam tanpa keunggulan daya manusianya? Bagaimana bisa digalang daya manusia tanpa dibangkitkan kesadarannya akan kedaulatan pribadi terhadap alam dan sesamanya?”
Adegan teatrikal lantas disambung adegan musikal yang menampilkan rekaman (footage) konser Kantata Takwa di Gelora Bung Karno, pada 1991, yang dipadati puluhan ribu penggemar.
Kehadiran sosok berkerudung putih seolah menggambarkan adanya "guardian angel" yang mengawal langkah para personel grup band legendaris ini tetap di jalur yang benar.
Maka agak aneh melihat perilaku sebagian besar penggemar yang rusuh, sebagaimana tergambar di footage. Mereka menerobos barikade tentara, mendobrak pagar pembatas, merapat ke depan panggung.
Iwan Fals, salah seorang personel Kantata Takwa, yang masih aktif berkonser. (NTARA FOTO/Fikri Yusuf/Asf/nz/15) |
Memirsa film ini, kita melihat bakat musikal dan teatrikal yang begitu besar dari seniman-seniman Indonesia. Sungguh hebat cara mereka meneriakkan kritik dalam bungkus seni yang indah.
Aksi musikal digarap secara mumpuni. Bahkan di atas panggung pun mereka tetap menyajikan aksi teatrikal. Sajian yang terbilang unik dan langka untuk ukuran grup musik cadas.
Salah satu adegan yang menarik, saat Iwan Fals menyanyikan Bento sembari memainkan gitar diiringi koor belasan bocah yang telanjang usai berenang di kali atau saluran air persawahan.
Adegan disambung aksi kejar-kejaran para bocah dan sejumlah orang dewasa dengan si “Bento” yang terpergok hampir menguasai area persawahan. Melihat adegan kocak ini, penonton pun terpingkal.
Maka sangat disayangkan, sajian yang begitu bagus harus dibungkam sekian lama hingga belasan tahun. Lolongan kritik sosial Kantata Takwa dianggap tabu hingga terpaksa diberangus.
Asikin Hasan, salah seorang penonton, pun menyatakan keheranannya kepada CNN Indonesia, “Aneh juga kalau Pemerintah tak bisa menangkap kritik tajam yang disampaikan Kantata Takwa.”
Lihat juga:Gelar Nyanyian Raya, Iwan Fals Ajak Jokowi |
Sang kurator seni rupa Salihara sekaligus memuji simbol-simbol sarat makna di film ini. “Karya seni yang baik ya seperti itu: tidak menafsirkan sesuatu secara langsung. Surrealistic.”
Ditemui di sela pemutaran film ini, Eros Djarot menyatakan kepada CNN Indonesia, “Saya menggarap film ini sembari menerjemahkan puisi-puisi Rendra, sebab kalau sekadar membuat film dokumenter ya pinjam rekaman TVRI saja.”
Menurut Eros, konteks film ini masih relevan di era sekarang. “Unbelievable things to see, setelah sekian lama kualitas manusianya masih sama. Isunya masih sama: keadilan, human right. Kita tidak mengalami kemajuan besar.”
[Gambas:Youtube]
(vga/vga)
Iwan Fals, salah seorang personel Kantata Takwa, yang masih aktif berkonser. (NTARA FOTO/Fikri Yusuf/Asf/nz/15)