Ratusan buku bakal dipamerkan. Puluhan penulis didatangkan. Sajian-sajian kuliner lezat dihidangkan. Keberagaman Indonesia dinomorsatukan. Persis seperti tema Komite Nasional, "17.000 Islands of Imagination".
Keberagaman itu pula yang digarisbawahi Ronny Agustinus dari penerbit Marjin Kiri, yang ikut berangkat memamerkan buku-bukunya ke Frankfurt Book Fair 2015. Perdebatan soal siapa yang berangkat dan tidak, atau tema utama bayangan, menurutnya lebih baik tidak dilanjutkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tema keberagaman yang luar biasa itu harus mewakili semuanya, meskipun susah karena banyak problem yang mengakar," kata Ronny.
Salah satu masalah adalah soal database penulis. Indonesia belum punya data pasti semua buku yang terbit, baik melalui penerbit besar maupun terbit secara independen. "Kita juga jarang tahu penulis dari Indonesia Timur, seperti Papua. Itu harus dihadirkan," ujarnya.
Selain daerah, genre juga harus representatif, kata Ronny. Meskipun lagi-lagi, kenyataannya susah. "Seperti ada tuntutan pembaca (Jerman) lebih fokus ke sastra. Jadi sastra mendapat porsi khusus. Tapi masih banyak lagi kok yang bisa kita tampilkan," kata Ronny melanjutkan.
Mengapa penting?
Intinya, kalau bisa Indonesia menyuguhkan semua yang dimiliki. Sebab Ronny sendiri sudah merasakan pentingnya berangkat ke Frankfurt. Tahun lalu Marjin Kiri ikut memamerkan buku-bukunya di sana. "Hadir di sana membawa exposure besar secara internasional," ujarnya.
"Boleh bilang ini enggak penting. Kehadiran kita di sana tidak akan langsung membereskan masalah internal perbukuan. Tapi kita jadi punya jaringan internasional," lanjut Ronny.
Selama ini antara penerbit dalam negeri dengan asing, yang bisa memasarkan karya-karya penulis Indonesia lebih luas ke luar, hanya saling kontak melalui surat elektronik atau paling banter telepon. Dengan bertemu muka, jaringan yang terjalin jadi lebih erat.
"Ada kepercayaan lebih yang terbangun."
Hadir di sana membawa exposure besar secara internasional.Ronny Agustinus, Marjin Kiri |
"Kita justru mencari jaringan ke sana. Buku yang dipamerkan dan dibawa penerbit untuk berdagang hak cipta itu beda," ujarnya.
Ronny menjelaskan, untuk buku-buku yang dibawa penerbit pun tidak ada seleksi dari Komite Nasional, khususnya Komite Buku. Hanya penerbitnya yang diseleksi. Soal pemilihan buku, diserahkan ke pertimbangan internal. "Tapi temanya akan beragam dengan sendirinya."
Ronny membenarkan Marjin Kiri punya "selera" buku yang berbeda. Namun, tidak semua yang ia bawa adalah tentang komunisme atau peristiwa 1965. Meskipun, ia tahu memang ada peminat khusus untuk tema-tema seperti itu.
"Di Jerman itu kan ada lingkungan eksil 1965. Tentu mereka tertarik membahas itu. Tapi tidak bisa dibilang juga itu yang paling diminati," ujarnya.
(rsa/rsa)