Memiliki tema The Potter and The Knight, pameran karya seni tanah liat ini baru pertama kali diadakan di Indonesia dan dunia. Sudah berlangsung sejak 7 Juni 2015, pameran ini akan berakhir pada 7 Juli 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijumpai oleh CNN Indonesia, pada pekan kemarin, salah satu penggagas Terracota Biennale, Noor Ibrahim, mengatakan konsep pameran seperti itu memang sudah direncanakan sejak awal.
Beberapa seniman yang menyumbang karya untuk Terracota Biennale 2015 adalah Djoko Pekik, Nasirun, Teguh Ostenrik, Kondang Sugito dan Diki Chandra.
Bagi Noor, seni tanah liat adalah bentuk kesenian yang paling dasar yang banyak makna.
"Banyak seniman yang sudah melanglang buana dengan teknik kontemporer, realis dan lain sebagainya. Tapi hanya sebagian kecil yang mau kembali belajar membuat karya dari tanah liat. Padahal tanah liat adalah kesenian khas Indonesia," kata Noor.
"Tanah liat dapat dengan mudah ditemukan di Indonesia. Banyak karya tanah liat kuno milik Indonesia yang malah dipajang di museum luar negeri. Jika Terracota Biennale tidak segera dibuat, karya seni tanah liat Indonesia akan segera punah," lanjut Noor.
Kapitalisme versi tanah liat. (CNNIndonesia/Ardita Mustafa) |
Karya Diki Chandra. (CNNIndonesia/Ardita Mustafa) |
Tanah liat berbentuk tangan dan batu cincin. (CNNIndonesia/Ardita Mustafa) |
Karya Djoko Pekik. (CNNIndonesia/Ardita Mustafa) |
Sama seperti seniman yang lain, karya tanah liat yang sudah dibentuk Djoko lalu diproses oleh orang-orang Desa Kasongan, pusat gerabah di Yogyakarta.
"Kalau melukis harus pakai tenaga, kalau membuat karya tanah liat harus lemah lembut. Jelas, lebih sulit membuat karya seni ini," kata pria yang memiliki 12 anjing, 17 cucu, delapan anak dan satu istri ini.
Sejumlah karya seni yang dipamerkan di Terracota Biennale sudah laku terjual.
"Tanah liat adalah media berkesenian yang paling multi-ekspresi. Hasilnya sangat tergantung proses berpikir sang senimannya," ujar Noor.
Noor dan Djoko sama-sama berharap, Terracota Biennale akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya.
"Pameran baru permulaan, tunggu saja tanggal mainnya," kata Djoko menutup pembicaraan. (ard/ard)
Kapitalisme versi tanah liat. (CNNIndonesia/Ardita Mustafa)
Karya Diki Chandra. (CNNIndonesia/Ardita Mustafa)
Tanah liat berbentuk tangan dan batu cincin. (CNNIndonesia/Ardita Mustafa)
Karya Djoko Pekik. (CNNIndonesia/Ardita Mustafa)