Lebih dari 250 kamera televisi Eropa menyorot festival itu. Dan Indonesia, yang di Frankfurt Book Fair 2015 menjadi Tamu Kehormatan, dalam festival Ufferfest pun mendapat sorotan utama.
Dalam status Facebook-nya, Goenawan Mohamad, Ketua Komite Nasional Indonesia Frankfurt Book Fair 2015 menyebut, Indonesia akan mendapat panggung seluas 800 meter persegi di sana. Posisinya pun istimewa karena diunggulkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Acara yang kita tawarkan menginformasikan bahwa Indonesia ini negara yang setiap jengkalnya sangat kaya dan bisa menginspirasi," ujar Slamet. Ia melanjutkan, "Akan ada musik Sumatra, Irian, Jawa, Melayu."
Bukan hanya seni budaya yang tradisional, Slamet juga menghadirkan karya kontemporer. "Karena dunia sekarang berubah, irama musik pun berkembang," katanya menjelaskan. Lantas, siapa saja musisi yang diboyong ke Jerman?
Goenawan menyebutkan dalam akun Facebook-nya, akan ada Dwiki Dharmawan yang tampil bersama musisi Eropa dengan Jazz Quartet-nya dan Djaduk Feriyanto dengan Kuaetnika. "Kita sudah memberikan potongan musiknya dan mereka suka," ujar Slamet. Tapi penampil bukan hanya itu.
Karena Indonesia tak lepas dari tradisi arak-arakan, negeri ini juga akan menampilkan Barong Banyuwangi. "Barong itu kan singa perkasa yang melindungi masyarakat dari bahaya, keliling begitu. Kita membawa inspirasi itu ke sana," Slamet menuturkan.
Selain itu, kata Slamet lagi, masih ada musik kontemporer yang akan dibawakan para penyanyi muda seperti Dira Sugandi dan Bonita.
Itu semua rasanya belum cukup mewakili seni budaya Indonesia. Slamet masih akan menampilkan dangdut, akar musik Indonesia. Penyanyi dangdut dari Yogyakarta akan diboyong ke sana demi menyuguhkan lantunan meliuk itu. Namun, tidak ada pedangdut Ibu Kota yang ikut.
"Mereka kan ada kontrak. Sebenarnya mau menggunakan salah satu dari akademi dangdut, tapi ternyata tidak mudah," ucap Slamet menjelaskan. Ia akhirnya menggunakan dangdut yang bernapaskan Melayu. Pemusik Yogyakarta yang juga berlatar akademi pun dipilih.
"Kita ini kan rumpun Melayu. Jadi saya minta dangdut yang berwarna Melayu. Ada dangdut goyangnya, tapi tidak semua seperti itu." Masih belum cukup, penari dan pemusik Papua juga turut memeriahkan Ufferfest.
Slamet Rahardjo, Ketua Komite Pertunjukan, Pameran, dan Seminar Frankfurt Book Fair 2015. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja) |
Keberagaman itu dirasa menjadi suguhan yang tepat, apalagi berdekatan dengan perayaan 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini. "Akan ada muhibah budaya sejak Februari sampai Oktober nanti," ujar Slamet menegaskan.
(rsa/rsa)
Slamet Rahardjo, Ketua Komite Pertunjukan, Pameran, dan Seminar Frankfurt Book Fair 2015. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)