Bioskop pun ikut-ikutan dituding bersalah, lantaran menjadi penyedia sarana Ant-Man tayang di lebih banyak layar. Bioskop pun dianggap tidak mendukung perfilman nasional.
Ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta, Senin (3/8) Direktur 21 Cineplex, Tri Rudi Anityo menjelaskan, pihaknya tidak berniat membela salah satu pembuat film, entah domestik maupun asing. Ia bahkan menegaskan tidak ada produser film yang dianakemaskan. "Menganakemaskan produser, tidak. Tapi film, iya," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beberapa hari pertama penontonnya kosong. Berikutnya, lima pertunjukan hanya 130 penonton. Sehari tidak sampai 200 penonton," kata Anityo membeberkan data. Namun, film itu tetap dijaga sampai seminggu. Hanya jumlah penayangan yang dikurangi. Padahal jika itu film asing, sudah "didepak" oleh bioskop.
"Ini siapa tahu masih bisa ramai, lewat promosi mulut ke mulut," tuturnya menambahkan. Pada akhirnya, saat "persaingan" dengan Ant-Man, layar untuk film yang dibintangi Paul Rudd itu hanya 242 buah, sementara film nasional diberi lebih dari 400 layar.
Sebenarnya, mempertahankan film seperti itu membuat pihaknya merugi. Untuk menutup biaya operasional bioskop, setidaknya butuh okupansi 30 persen dari rata-rata 750 kursi penonton. "Tapi film nasional masih dipertahankan asal masih di atas 100 penonton per hari, meskipun itu sebenarnya kerugian operasional," ucapnya.
Namun di lain sisi sebagai bisnis, bioskop juga ingin menjadi salah satu penopang film nasional. Pengaturan layar merupakan salah satunya. Meskipun sudah ada film asing yang tayang pada tanggal tertentu dan "menghabiskan" layar, kata Anityo, ia tetap mengusahakan ada layar untuk film domestik.
Selain itu, bioskop 21 juga berusaha tetap ada di daerah-daerah, yang pelosok sekalipun. Meskipun, diakui CEO 21 Cineplex, Hans Gunadi dalam kesempatan yang sama, pihaknya terkadang merugi. Biaya investasi dan operasional jauh lebih mahal ketimbang pemasukan dari penonton.
Film nasional masih dipertahankan asal masih di atas 100 penonton per hari, meskipun itu sebenarnya kerugian operasional21 Cineplex |
Lagipula, Anityo percaya film tidak bersaing secara substitutif, meski itu melibatkan film domestik dan asing. Masing-masing penonton punya selera yang berbeda. Penyuka komedi misalnya, tidak menonton Mission: Impossible Rogue Nation karena itu laga. Mereka mungkin lebih memilih Comic 8: Casino Kings Part 1.
"Penonton Ant-Man pun belum tentu tidak mau menonton Comic 8 atau Surga yang Tak Dirindukan. Buktinya, dua film itu bisa menembus angka satu juta penonton. Dan tanpa film asing, belum tentu domestik bisa mencapai angka box office yang bagus," kata Anityo.
Selain tergantung selera penonton, laku tidaknya film juga ditentukan seberapa serius itu dibuat. Film serius pun, bahkan yang berbujet tinggi, tidak semuanya bisa laris manis lantaran tergantung selera penonton.
Film nasional tidak selalu keok. Ada Habibie & Ainun dan Laskar Pelangi yang mencapai empat juta penonton. Terbaru, Comic 8: Casino Kings Part 1, meski baru dua pekan di bioskop sudah sanggup meraup lebih dari satu juta penonton. Jika begitu, bioskop sebagai salah satu "pembela" film nasional jelas takkan merugi.
(rsa/rsa)