Namun dalam beberapa dekade terakhir, sebagian pencinta komik di Indonesia hijrah ke komik buatan Jepang atau Amerika Serikat karena sepinya industri komik lokal.
Meski begitu, kini komik Indonesia dinilai sedang dalam masa kebangkitannya. Hal ini diamini Erfan Fajar, seorang komikus senior asal Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di kesempatan yang sama, komikus dari Padepokan Ragasukma, Sweta Kartika menyetujui pernyataan itu. Menurutnya, saat ini tugas para komikus muda adalah membuat komik yang memiliki faktor pembeda agar karya mereka mampu bertahan di tengah persaingan komik internasional.
“Konten lokal jadi nilai jual tersendiri bagi komik Indonesia dan itu yang dicari orang luar dari komik kita,” tutur Sweta yang juga terlibat dalam pembuatan komik adaptasi dari film besar Indonesia berjudul Pendekar Tongkat Emas.
Selain faktor pembeda berupa konten lokal, menurut Sweta, juga harus ada rasa empati para komikus dalam pembuatan komik. Mereka harus melihat dari sisi pembaca juga, bukan hanya dari pandangan seorang komikus.
“Komikus harus bisa melihat dari dua sisi: komikus dan pembaca. Jangan sampai menilai karya hanya dari diri sendiri, penilaiannya akan prematur. Coba setelah komiknya ada, lempar ke pembaca. Ngerti enggak si pembaca?” ujar Sweta.