Osama bin Laden 'Nge-fans' Musisi Pencinta Damai

Vega Probo, CNN Indonesia | Selasa, 18/08/2015 16:53 WIB
Osama bin Laden 'Nge-fans' Musisi Pencinta Damai Foto eksklusif Osama Bin Laden (CNNIndonesia Free Watermark/Dok. United States Attorney)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mendengar nama Osama bin Laden disebut, sontak benak dipenuhi memori tentang pemimpin organisasi militan Al Qaeda yang disebut-sebut sebagai otak di balik serangan terhadap gedung kembar The World Trade Center di Amerika Serikat, pada 2001.

Namun siapa sangka, orang yang selama ini dituding sebagai penyulut tragedi kemanusiaan 9/11 ternyata memiliki selera musikal yang lumayan. Ia antara lain menggemari karya Enrico Macias, yang dikenal sebagai musisi pencinta damai.

Laman berita Inggris mengabarkan, beberapa kaset Enrico Macias ditemukan menyelip di antara 1.500 kaset koleksi Bin Laden di bekas tempat persembunyiannya di Khandahar, Afghanistan, yang ditemukan pasukan AS, beberapa tahun lalu.


Kaset-kaset itu telah diteliti oleh Flagg Miller, pakar kajian religi dan budaya dari University of California, AS. Hasil penelitan sang profesor lalu dijadikan subjek buku The Audacious Ascetic yang siap dirilis, pada September 2015.

Sungguh tak diduga, bila benar Bin Laden semasa hidupnya pernah menyukai karya Enrico Macias, musisi keturunan Yahudi Perancis-Aljazair yang bernama asli Gaston Ghrenassia. Bin Laden tewas di tangan pasukan AS, pada 2011.

“Lagu-lagu Macias menggiring orang untuk menikmati lagu-lagu khas Yahudi Perancis-Aljazair, juga menikmati kerja keras tanpa perlu terpaku pada kepercayaan tertentu,” kata Miller sebagaimana dikutip laman Foreign Policy.

Macias berkarier sebagai musisi sejak 1960-an. Dua dekade kemudian, pada 1980, Sekjen PBB Kurt Waldheim menabalkannya sebagai Singer of Peace berkat lagunya Malheur à celui qui blesse un enfant (Celakalah orang yang melukai anak-anak).

Berikutnya, giliran Sekjen PBB Kofi Annan memberi Macias peran penting sebagai Roving Ambassador for Peace and the Defence of Children. Macias memberi perhatian lebih terhadap isu perdamaian mengingat masa lalunya yang kelam di Aljazair.

Pada 1961, tanah kelahirannya, Aljazair, bergejolak. Macias pun melarikan diri bersama sang istri, Suzy, ke Perancis. Di Negeri Menara Eiffel, putra musisi yang piawai bermain gitar ini meniti karier di kafe dan kabaret setempat.

Soal nama panggung, ada kisahnya sendiri. Enrico diambil dari nama panggilannya saat bergabung orkestra Cheikh Raymond. Nama belakang Ghrenassia kerap ditulis keliru menjadi Nassia atau Macias. Lalu, jadilah Enrico Macias.

Pria kelahiran Constantine, 11 Desember 1938, ini sudah piawai main gitar sejak kecil. Beranjak remaja, di usia 15 tahun, ia bergabung dengan Cheikh Raymond Leyris Orchestra. Semula hendak menjadi guru, namun bakat musikalnya terlalu kuat.

Jadilah ia musisi yang perlahan menapaki karier di Perancis, sejak 1962. Pada tahun-tahun berikutnya, namanya semakin dikenal di Eropa, Amerika Serikat dan Jazirah Arab. Sampai-sampai Bin Laden pun ikut mengoleksi album musiknya.

[Gambas:Youtube] (vga/vga)


ARTIKEL TERKAIT