Setidaknya ide-ide dijaring dari 10 kota, termasuk Kendari, Sulawesi Tenggara. Penjaringan ide di Kendari berlangsung kemarin (19/8). Bertempat di Universitas Halu Oleo, KPK melakukan pemutaran film-film bertema korupsi, talkshow, sekaligus pemilihan ide yang akan didanai.
"Dari masing-masing daerah akan ada satu pemenang, untuk dibikinkan film bareng KPK," ujar Epi Handayani, Spesialis Kampanye Sosial Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK saat berbincang dengan CNN Indonesia di Kendari, Sulawesi Tenggara (19/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun saat pelaksanaan movie day, panitia masih membuka kesempatan bagi pelajar, mahasiswa, maupun umum yang ingin mendaftar. Hanya saja, mereka diberi waktu tak lebih dari dua jam. Selama itu mereka harus menuangkan ide film sederhana dalam dua lembar kertas.
Dari sekian banyak pengirim proposal untuk golden ticket, terpilih sembilan tim. Salah satunya dari MAN 1 Kendari. Dijelaskan Muh. Amrul Nasir, siswa kelas 2 MAN 1 Kendari proposal filmnya terinspirasi kisah nyata. Ia kebetulan tinggal dekat Rumah Sakit Jiwa Propinsi Sultra.
"Rumah sakit itu gedungnya jelek sekali. Kita orang sehat saja di situ stres, apalagi yang sakit jiwa. Apalagi ada pagarnya yang rusak, pasiennya bisa keluar," katanya kepada CNN Indonesia. Ia berasumsi, ada penyalahgunaan dana di sana.
Lewat ide filmnya, Amrul dan tiga kawannya ingin mempertanyakan ke mana dana pemerintah selama ini. Rumah sakit jiwa yang merupakan fasilitas pemerintah, ditelantarkan begitu saja. Siapa sangka, pemikiran mendalam siswa SMA itu baru muncul saat mengikuti movie day Festival Film Antikorupsi 2015.
Amrul bahkan mengaku hanya mendapat 30 menit untuk menuangkan ide itu ke dalam proposalnya. "Aslinya dikasih waktu dua jam. Tapi ternyata tiba-tiba diminta mengumpulkan, jadi kita cuma tulis setengah jam," katanya.
Meski begitu, bukan tidak mungkin ide Amrul cs ikut dalam upaya pencegahan korupsi dan mengubah Indonesia menjadi lebih baik.
Ide Amrul termasuk satu di antara banyak pemikiran menarik yang ditemui Yosep Anggi Noen, sutradara yang juga pemateri dan juri pitching forum Festival Film Antikorupsi 2015 sepanjang kegiatan itu. Meski sederhana, dari ide itu ia menemui optimisme memerangi korupsi.
Sebenarnya Anggi tidak ingin muluk-muluk langsung mengubah Indonesia lewat film. Itu butuh proses panjang. Namun setidaknya melalui ajang seperti Festival Film Antikorupsi, ada perubahan pola pikir di tingkat kecil.
"Si pembuat film berubah pola pikirnya. Dia akan mencari data, mendalami, dan lebih peka. Mindset-nya jadi antikorupsi. Dia memandang hal kecil sebagai masalah. Itu lebih penting," tuturnya. Baru kemudian, film mengubah pola pikir penonton.
Dan bukan tidak mungkin, seperti keinginan KPK saat mencanangkan Festival Film Antikorupsi, mereka menjadi bagian dari upaya pencegahan korupsi di Tanah Air.
Selain mewadahi ide kreatif anak muda tentang pencegahan korupsi, Festival Film Antikorupsi juga mengompetisikan film-film yang sudah jadi dalam lima kategori. Kalau pemenang ide akan diberi Rp10 juta, film yang sudah jadi akan mendapat hadiah fasilitas untuk produksi film. (rsa/vga)