Tak tanggung-tanggung, sutradara Jake Schreier langsung mendapuk Cara sebagai pemeran utama. Ia menjadi remaja SMA bernama Margo, yang populer, punya banyak teman, kekasih tampan, tetapi juga diselubungi misteri. Sejak kecil ia memang menyukai misteri dan petualangan.
Bersama tetangga depan rumahnya, Quentin (Nat Wolff) ia pernah menemukan seorang pria tewas di tepi danau. Bagi Quentin itu hanya angin lalu. Namun Margo terus memburu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di kepalanya. Itulah yang akhirnya memisahkan kedua sahabat itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka tidak pernah berurusan dengan geng Margo. Sampai suatu malam, seperti mengulang masa kecil, Margo menyelinap masuk ke jendela kamar Quentin dan mengajak sahabat masa kecilnya itu melakukan kejahatan semalaman. Sejak itu, hidup Quentin tak pernah sama lagi.
Apalagi, dengan wajah-wajah remaja baru di layar lebar Cara tampak paling menonjol. Namun jika Cara menjadikan film itu sebagai patokan untuk beralih dari dunia modeling ke akting, alasannya kurang kuat dan berdasar.
Sebab akting yang mencuri perhatian justru muncul dari Abrams. Sebagai Ben, ia sukses membuat seisi bioskop tertawa karena ulahnya yang polos tapi terkadang sok. Abrams cocok memerankan remaja yang jadi bulan-bulanan.
Kekuatan Paper Towns bukan pada alur cerita atau drama yang dijual seperti adaptasi dari buku John Green, The Fault in Our Stars. Paper Towns menyuguhkan suasana remaja yang renyah, penuh tawa, dan ujian persahabatan. Paper Towns tidak melulu bicara percintaan. Film itu tidak menjual air mata dan pergolakan emosi.
Film ini bisa menjadi tontonan pas untuk remaja yang sedang berada di penghujung masa sekolah. Paper Towns memberikan perspektif berbeda memandang dan menjalani masa-masa SMA. Mengubah hidup yang tadinya menyebalkan jadi terasa menyenangkan, hanya dengan keberanian.
(rsa/rsa)