Sebagaimana ditulis dalam blog-nya, Linda mengaku, "mendengar nama Thukul pertama kali, pada 1994." Temannya menyarankan untuk bertemu Thukul, yang ketika itu, terpilih menjadi ketua divisi budaya Partai Persatuan Rakyat Demokratik (PDR).
"Thukul teman yang lucu. Dia suka menceritakan hal lucu dan membuat kami tertawa," kata Linda kepada CNN Indonesia via surel, pada Rabu (26/8). "Selama bekerja sama dengannya dulu, saya tidak pernah melihat dia tidak bersemangat."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam era keterbukaan, tidak boleh ada pembungkaman. Tiap tindak pembungkaman pikiran kritis atau pelarangan terhadap kebebasan berpendapat tentunya harus dilawan.Linda Christanty |
"Dia menjadi suara bagi mereka yang diperlakukan tidak adil," kata perempuan penulis buku Jangan Tulis Kami Teroris (2011). Lalu, ia menceritakan pengalamannya suatu kali berpartisipasi dalam sebuah acara diskusi di rumah Thukul di Solo.
Thukul dan teman-temannya yang kalangan aktivis tak ingin Linda juga ditangkap dan diinterogasi. Sementara mereka sendiri sudah langganan diinterogasi. Pengalaman ini membulatkan tekad Linda untuk memastikan aksi pembungkaman aktivis tidak terjadi lagi.
"Dalam era keterbukaan, tidak boleh ada pembungkaman. Tiap tindak pembungkaman pikiran kritis atau pelarangan terhadap kebebasan berpendapat tentunya harus dilawan," kata salah satu partisipan Frankfurt Book Fair 2015 di Jerman.
Linda sepenuhnya setuju dengan bait sajak karya Thukul yang sangat terkenal, "Hanya ada satu kata: lawan!" Dulu, bait sajak ini selalu dibacakan sang aktivis dalam aksi-aksi massa di era Presiden Soeharto hingga menjelang akhir kekuasaannya, pada 1998.
Fajar, di mata Linda, berbakat dalam musik dan lirik lagunya cukup kritis. "Sayang sekali, saya tidak bisa ikut menonton waktu itu," ia menyesali. Namun yang jelas, dukungan Linda selalu ada untuk keluarga Thukul.
Sekitar tiga tahun, Linda mengisahkan, dirinya mengajak Sipon, juga dua teman baiknya, Mugiyanto dan Wilson, berkeliling Jakarta. Semata untuk bersenang-senang. Sepanjang perjalanan, di antara mereka tidak ada pembicaraan politik.
'Itu merupakan rencana dua teman saya untuk membuat Mbak Sipon gembira dan kami memang banyak tertawa," kata Linda yang siap mendukung rencana pendirian yayasan untuk Wiji Thukul, jika ada.
“Seperti kata Wiji Thukul dalam salah satu sajaknya, 'Hidup ini harus berlanjut.'"
(vga/vga)