Nyi Tjitjih bukan hanya cantik. Ia juga berbakat. Menyanyi, menari, dan berakting pun ia lakoni. Itulah yang membuat Sayyid Abubakar Bafagih, seorang keturunan Arab-Indonesia yang lahir di Bangil, Jawa Timur dan kebetulan bertandang ke Sumedang, terpincut padanya.
Tak perlu waktu lama bagi Nyi Tjitjih untuk menjadi pusat sorotan. Ia lah sang primadona. Bahkan orang-orang Belanda yang menonton Opera Valencia pun tertarik pada gadis 18 tahun itu. Abubakar lantas membuat satu keputusan besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kediaman para anggota Opera Miss Tjitjih, Jalan Kabel Pendek Cempaka Baru Cempaka Putih. (CNN Indonesia/Endro Proherdityo) |
Nama kelompoknya diubah menjadi tonil Miss Tjitjih pada 1928. Bukan hanya itu, di tahun yang sama Abubakar pun menikahi primadonanya sendiri. Nyi Tjitjih setuju dijadikan istri ke-dua. Namun tak lama, istri pertamanya diceraikan meski sudah memberi enam anak.
(Baca juga: Kehidupan Nyata Di Balik Sandiwara Miss Tjitjih)
Mereka berpindah-pindah markas. Pernah di manggung sekaligus tinggal di Kramat Raya, Pasar Baru, Angke, Teluk Gong, sampai akhirnya menempati sebuah gedung di lokasi padat penduduk Cempaka Baru, Kemayoran. Markas itu yang dipertahankan hingga kini. Para pemain Miss Tjitjih pun tinggal di belakangnya.
Hanya saja, kini Miss Tjitjih sudah ditinggalkan sang primadona. Ia meninggal karena penyakit TBC pada 1936. Perempuan yang menyandang nama Nyi Tjitjih sejak usia 15 tahun itu terjatuh usai sebauh pementasan.
Meski penyakit menggerogoti tubuhnya, Nyi Tjitjih tetap pentas. Namun akhirnya ia tak tahan. Nyi Tjitjih kembali ke Sumedang, dan tahun itu juga meninggal di kampung halamannya. Ia tak meninggalkan keturunan.
Abubakar yang kemudian melanjutkan perjuangan Miss Tjitjih. Ia bahkan tetap menggunakan bahasa Sunda, seperti keinginan sang istri yang meninggal dalam usia 28 tahun itu. Kini, kelompok Miss Tjitjih masih dikelola keturunan-keturunan para pemain yang peduli.
(rsa/vga)
Kediaman para anggota Opera Miss Tjitjih, Jalan Kabel Pendek Cempaka Baru Cempaka Putih. (CNN Indonesia/Endro Proherdityo)