Seperti saat ditemui CNN Indonesia di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, kemarin (3/9), pria yang selama ini dikenal sebagai komposer lagu pop ternyata tak hanya menyukai musik diatonik, melainkan juga pentantonik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, ia mencontohkan musik K-pop yang tak ubahnya lagu Amerika ditempel bahasa Korea. Begitu juga tempelan bunyi saksofon, alat musik gesek, digital ke dalam ramuan musik ekletik bernuansa Arabian yang bisa menggambarkan suasana kota Seribu Satu Malam.
“Budaya itu progresif,” katanya. Soal upaya pelestarian budaya, ia menyatakan, “Budaya Indonesia harus dilihat dengan sudut kekinian, bukan dipandang antik. Proses budaya itu juga harus dibawa ke alur kekinian tanpa menghilangkan unsur aslinya.”
Selain melestarikan budaya Indonesia, Yovie dan rekan-rekannya di Kahitna juga melestarikan karya mereka. Sebagaimana dibocorkan salah seorang personelnya, Hedi Yunus, bakal ada album baru dan konser tiga dekade Kahitna, pada 2016 mendatang.
(vga/vga)