Itu adalah sebagian dari kegiatan yang diadakan untuk memperingati 20 tahun kepergian seniman legendaris Indonesia yang sekaligus ikon Betawi, Benyamin Sueb atau dikenal juga dengan nama Benyamin S.
Pada 5 September 1995, Benyamin meninggal dunia dan meninggalkan kekosongan besar di dunia seni Indonesia, terutama untuk budaya Betawi asli. Namun, di mata penggemarnya Benyamin seakan tidak pernah hilang dari ingatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Biem, anak ketiga dari dari sembilan anak sang legenda, kini menjadi penggerak warisan budaya sang ikon melalui radio betawi, Bens Radio.
Selain mewariskan lebih dari 50 judul film, 45 single lagu solo, 37 single duet, dan 10 kompilasi, Benyamin juga meninggalkan sebuah radio yang didedikasikan untuk warga dan budaya Betawi.
Putra ketiga Benyamin, Biem Triani Benjamin, menyelenggarakan peringatan 20 tahun Benyamin meninggal dengan kegiatan seni dan pameran. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo) |
Acara dimulai dengan kegiatan tahunan setiap tanggal 5 September, berziarah ke makam Benyamin di TPU Karet Bivak, Jakarta Selatan.
Sore harinya, kegiatan seni pun dimulai di Bens Radio.
Sejumlah band yang terdiri dari anak-anak Betawi asli membawakan lagu-lagu sang legenda seperti Lampu Merah dan Janda Kembang yang merupakan hits pada era 1970-an hingga 1980-an.
Warga Betawi di kawasan Jagakarsa dan juga wilayah lain pun berbondong-bondong datang untuk menikmati ‘pesta rakyat’ itu.
"Sengaja memang datang ke sini, sudah diagendakan dari jauh-jauh hari," kata Umi. "Ingin nonton Kompor Meleduk," kata Umi, warga Pasar Minggu.
Sejak lama, Umi yang hadir bersama anaknya itu memang menyukai Benyamin. Mulai dari film hingga lagu, solo maupun duet. Umi mengatakan lagu-lagu Benyamin sangat berkesan karena lirik-lirinya mewakili yang dirasakan masyarakat awam.
Semakin malam, penonton yang hadir semakin larut dalam lagu-lagu Benyamin yang tak tahan membuat badan bergoyang. Para penggemar Benyamin pun tak sungkan menuju depan panggung untuk berjoget, ataupun membuat antrian lingkaran sembari menari mengelilingi arena depan panggung.
Acara mengenang 20 Tahun Benyamin Sueb ditutup dengan pemutaran sebuah film yang jarang ditayangkan di layar kaca, Zorro Kemayoran, di layar tancap.
"Film Zorro Kemayoran ini jarang ditampilkan karena masternya di Hong Kong terbakar, namun satu kopiannya milik Yayasan Benyamin Sueb, sehingga sekarang kami putarkan kepada para penggemar Bang Ben." kata Beno Rachmat Benjamin, anak keempat Benyamin. (yns)
Putra ketiga Benyamin, Biem Triani Benjamin, menyelenggarakan peringatan 20 tahun Benyamin meninggal dengan kegiatan seni dan pameran. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)