Menurut Pandji, “kegamangan” yang kerap ditunjukkan Joko Widodo atau lebih dikenal dengan nama Jokowi, selama setahun belakangan ini memimpin Indonesia, semakin menegaskan kelemahan sebagai pemimpin yang tak memahami kultur atau cara kerja di level eksekutif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Keputusannya mencabut subsidi BBM itu bagus dan berani,” kata Pandji. “Belum pernah ada presiden yang berani membuat keputusan yang tidak populer ini.” Selain itu, ia juga memuji ide Jokowi mengoperasikan tol laut.
Pandji menilai, dampak perubahan krusial, seperti pembatalan Kurikulum 2013, memang tidak bisa dilihat secara langsung pada saat ini, melainkan pada tahun-tahun mendatang. Hal ini yang kadang tak dipahami sebagian orang.
Namun Pandji menyesalkan tindakan ceroboh Jokowi kala menandatangani suatu dokumen penting tanpa mencermati isinya. “Seharusnya presiden tidak melakukan kesalahan sefatal itu,” kata Pandji seraya menyebut Jokowi tak ubahnya rookie mistake.
Saat disinggung soal Nawa Cita, sembilan cita-cita yang berusaha diwujudkan Jokowi bersama jajarannya, Pandji menilai akar dari segala cita-cita adalah pendidikan. Kemajuan dan keberlangsungan suatu negeri tak terlepas dari hasil pendidikan.
Kampanye Revolusi Mental yang pernah digembar-gemborkan Jokowi, menurut Pandji, harus terealisir dalam keseharian, termasuk via tayangan televisi yang jelas-jelas berdampak lebih besar ketimbang media lain.
“Maka penting untuk memiliki mindset pendidikan, menyiapkan bekal untuk masa depan,” Pandji menegaskan. Elemen pendidikan itu, menurut Pandji, termasuk tayangan televisi, yang sehari-hari dikonsumsi masyarakat.
(vga/vga)