Memboyong film lokal ke negeri orang, diakui sutradara Sahrul Gibran, tidaklah mudah. Banyak syarat yang harus dipenuhi, sampai perlu berhadapan langsung dengan jajaran pemerintah setempat. Terutama saat mereka ingin menggunakan perpustakaan bersejarah, Bodleian.
"Jadi ada yang namanya Public Liability, semacam jaminan yang harus dibayar kalau merusak properti," ujar Gibran saat menggelar konferensi pers di Jakarta, pada Rabu (21/10). Harga yang harus di bayar tidak main-main, sekitar 5 juta poundsterling atau Rp50 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab Inggris tidak memperbolehkan pengambilan gambar di gedung bersejarah, apalagi di perpustakaan yang sudah berdiri sejak 1602. Perpustakaan itu hanya pernah dipakai untuk syuting Harry Potter, sebagai interior Hogwarts. Oxford akhirnya memberi izin karena MARS adalah film menyentuh soal pendidikan.
London bukan satu-satunya lokasi yang diambil untuk syuting film tentang perjuangan seorang ibu buta huruf membesarkan anak perempuan bernama Tupon. MARS juga syuting di tanah asal kisahnya, Gunung Kidul, sebanyak 80 persen.
Adegan saat Acha Septriasa berpidato di Oxford dalam film MARS. (Dok. Multi Buana Kreasindo) |
MARS rencananya akan rilis pada akhir tahun ini, atau paling lambat Mei 2016, berbarengan dengan Hari Pendidikan Nasional. Selain Acha, film itu juga dibintangi Kinaryosih, Chelsea Riansy, Jajang C. Noer, dan artis-artis lain. (rsa/vga)
Adegan saat Acha Septriasa berpidato di Oxford dalam film MARS. (Dok. Multi Buana Kreasindo)