'The Crocodile Hole,' Novel Fiksi dari Telaah Ilmiah

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Rabu, 28/10/2015 06:23 WIB
Ide awal novel fiksi ini berawal dari disertasi sang penulis yang merekam kisah organisasi perempuan terbesar di Indonesia pada 1965. Ilustrasi: Lubang Buaya, Jakarta Timur. (CNNIndonesia Antara Photo/M Agung Rajasa/15)
Jakarta, CNN Indonesia -- Novel The Crocodile Hole yang diskusinya sempat dicekal di acara tahunan Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), diluncurkan di kawasan Kemang, Jakarta pada Selasa (27/10).

The Crocodile Hole, yang dalam Bahasa Indonesia berarti Lubang Buaya, memang mengisahkan tema sensitif yang sampai sekarang masih dikramatkan oleh banyak orang, peristiwa 1965.

Saskia Wieringa, penulis novel The Crocodile Hole asal Belanda, membenarkan novel karangannya tersebut memuat beberapa fakta yang ia angkat dari kisah berdarah 1965. Tapi ia mengemasnya dengan bumbu-bumbu fiksi, agar novelnya lebih menarik untuk dibaca.


Dalam acara peluncuran dan diskusi buku The Crocodile Hole yang diadakan oleh Yayasan Jurnal Perempuan, Saskia menjelaskan sebenarnya ide novel tersebut berawal dari disertasi atau telaah ilmiah yang merekam kisah organisasi perempuan terbesar kala itu, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani).

Saskia memang sangat tertarik pada isu perempuan dan hak asasi manusia dan saat ini pun mengajar tentang studi gender di Belanda dan berbagai negara lain.

Sebelumnya ia telah mendengar kabar mengenai kekuatan Gerwani. Saskia lalu menginjakkan kakinya di Indonesia pada tahun 1970-an. Kisah Gerwani semakin membuatnya penasaran. Pasalnya setelah 1965, organisasi itu seolah seperti kehilangan taringnya.

"Di akhir 70-an pergerakan perempuan hampir tidak ada. Mereka bersifat sangat takut. Mereka tidak memperjuangkan hak perempuan lagi. Saya penasaran bagaimana bisa pergerakan yang begitu kuat bisa berubah begitu banyak," ujarnya.

Berawal dari Sujinah

Di tengah Saskia mencari kebenaran atas pertanyaannya itu, ia didatangi oleh seorang perempuan tua yang mengenalkan dirinya sebagai Sujinah. Perempuan itu tahu kalau Saskia merupakan seorang aktivis perempuan dan peneliti dari Belanda.

Sujinah menceritakan hal-hal yang tidak pernah diduga oleh Saskia sebelumnya. Ia bercerita banyak tentang Gerwani. Ia bercerita tentang kisah menakutkan gadis-gadis penghibur yang dituduh sebagai anggota Gerwani.

"Saya tidak bisa percaya cerita itu. Ibu Sujinah sampai saya minta cerita tiga kali kepada saya untuk memastikan bukan kesalahan bahasa yang saya dengar. Karena waktu itu Bahasa Indonesia saya belum lancar," katanya.

Saskia menghimpun semua data yang ia butuhkan dengan menggunakan studi literatur, dokumen sejarah, dan wawancara. Kala itu, ia merasa seperti seorang detektif yang harus sembunyi-sembunyi karena gerak-geriknya yang kerap menemui anggota Gerwani untuk diwawancara telah dicurigai.

Setelah semua data terkumpul, Saskia bisa menyelesaikan disertasinya. Tapi ia belum bisa lulus karena belum sempat mendapatkan persetujuan dari para narasumber. Kehadirannya juga keburu dicekal oleh pemerintah Indonesia kala itu.

Sekitar 15 tahun setelahnya, tepatnya pada 1994 akhirnya Saskia bisa kembali lagi ke Indonesia. Ia langsung meminta narasumbernya untuk mengecek dan menyetujui disertasinya. Dan akhirnya pada 1995, ia berhasil mendapatkan gelar doktor.

Akhirnya Saskia pun memutuskan untuk menjadikan disertasinya sebagai novel. Sebab, bila masih berbentuk disertasi, ia sadar pasti tidak ada yang membacanya, kecuali kalangan akademisi.

"Disertasi dan buku politik di Indonesia jarang yang baca. Akhirnya saya menulisnya menjadi roman thriller," ujar Saskia.

Kendati sudah dibumbui dengan cerita-cerita bahkan tokoh fiksi, novel berjudul The Crocodile Hole tersebut masih sarat dengan isu-isu Hak Asasi Manusia (HAM). Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan Gadis Arivia sampai menyebut novel tersebut sebagai buku HAM dan fiksi.

"Memang fiksi tapi memuat begitu banyak isu HAM di dalamnya," kata Gadis.

Ia juga menyukai pembahasan mengenai isu seksualitas yang cukup dalam di novel Saskia. Sehingga ketika membacanya, ada pengetahuan baru mengenai dimensi seksualitas.

"Menurut saya menarik, banyak novel yang menggambarkan situasi politiknya saja, tapi tokoh utamanya membawa isu lainnya, seperti relasinya dengan sesama perempuan," ujar Gadis.

"Saya ingin membuat isu HAM sehidup mungkin, begitu juga dengan karakternya walaupun novel ini fiksi," kata Saskia.

Menyukai Fiksi

Untuk mengubah karya akademisnya menjadi novel yang ringan dibaca dan mudah dimengerti tentu bukan perkara muda. Maka ia harus melakukan polesan di sana sini dan membubuhkan cerita-cerita fiksi yang bisa melengkapi cerita yang sudah ia dapatkan.

"Tapi memang menulis fiksi aku harus melakukan sesuatu yang lain lagi. Harus mendeskripsikan warna, emosi, situasi, macam-macam. Creating fiction is beautiful," ujar Saskia.

Meski bergelut di bidang akademis, tapi sebenarnya Saskia suka menulis fiksi. Menurut dia ada hal yang tidak bisa ia dapatkan ketika menulis kajian akademis dengan menulis karya fiksi.

Proses penulisan novel ini pun melewati tahap yang panjang. Butuh pemikiran dan evaluasi yang matang untuk memoles sebuah cerita yang sudah ada menjadi lebih menarik lagi.

Walaupun Saskia semangat ingin membuat sebuah novel tapi ia tidak terburu-buru membuatnya. Setiap hari hanya 500 sampai dua ribu kata saja yang ia tulis.

"Setiap pagi saya mulai dengan minum kopi, lalu menulis 500 sampai dua ribu kata. Malamnya saya selalu membaca ulang dan merasakan atmosfernya dan kembali menulis chapter berikutnya keesokan harinya," kata Saskia.

Kendati menyukainya namun Saskia tak menampik kalau begitu sulit ia menulis novel ini. Banyak sekali dilema yang ia alami apalagi harus mengungkapkan cerita kekejaman-kekejaman yang ia dapatkan.

Tak jarang ia tidak bisa tidur karena harus menyelesaikan fiksinya, "Kadang saya merasa tidak bisa tidur bahkan sampai tidak bisa ketemu orang lain. Saya sampai menolak undangan pesta."

(ard/vga)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK