"Tadinya mau rilis Agustus kemarin, tapi ternyata keterima di Venice, akhirnya minta undur dan baru dapat jadwal Februari tahun depan," kata Joko ketika ditemui di XXI Plaza Indonesia, Senin (16/11).
A Copy of My Mind sebenarnya bukan film yang asing, meski belum beredar di layar lebar Indonesia, film ini sudah beredar di festival-festival besar internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Festival film yang besar seperti Venice, Cannes, Berlin, Sundace, dan Toronto itu cuma ingin film yang tayang di mereka film yang world premier, jadi belum pernah tayang di mana pun termasuk di negara asalnya," kata Joko.
A Copy of My Mind mendapatkan tujuh nominasi dalam ajang FFI 2015, yaitu Film Terbaik, Penata Musik Terbaik, Penata Suara Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, dan Sutradara Terbaik.
Terdapat dua film nomine FFI yang belum sempat dinikmati penonton Indonesia, yaitu A Copy of My Mind dan juga Siti.
A Copy of My Mind mengisahkan kisah romansa sekaligus drama Sari (Tara Basro) dan Alek (Chicco Jerikho). Sari yang berprofesi sebagai karyawan salon harus menghadapi kenyataan berurusan dengan penjahat kelas kakap di tengah panasnya suasana politik jelang pemilihan presiden 2014 lalu. Film ini juga dianggap sebagai kapsul waktu milik Joko Anwar.
"Kapsul waktu karena menggambarkan kejadian yang ada saat itu terjadi, namun semua karakter dalam film ini fiktif, termasuk calon presidennya." kata Joko.
Sedangkan Siti merupakan kisah perjuangan ibu muda 24 tahun yang merawat keluarga termasuk mertuanya. Ia harus banting tulang sendirian karena suaminya mengalami kecelakaan hingga lumpuh. Siti mendapatkan penghargaan di Festival Film Internasional Shanghai dan juga Festival Film Internasional Singapura.
(end/utw)