Warisan Kebaikan Korrie Layun Rampan

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Kamis, 19/11/2015 17:49 WIB
Warisan Kebaikan Korrie Layun Rampan Korrie Layun Rampan meninggal pada usia 62 tahun. (Dok. Korrie Layun Rampan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sehari lalu, ucapan doa masih berdatangan di akun Facebook pengarang kenamaan Indonesia, Korrie Layun Rampan. "Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, karena 'mukjizat' itu masih ada. GWS ya Kak Korrie Layun Rampan," tulis Anie S. Miter, kerabatnya.

Hari ini, Kamis (19/11) Anie kembali mengunggah tulisan ke akun yang sama. Hanya saja, harapan keajaiban yang Selasa (17/11) lalu ia lambungkan telah sirna. Ia menyampaikan kabar duka. Sang pengarang kebanggaan Kalimantan telah menutup usia.

Korrie meninggal pukul delapan pagi tadi di Jakarta. Rupanya beberapa hari sudah Korrie dirawat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih karena penyakit jantung. Pagi tadi, kondisinya memburuk. Korrie pun mengembuskan napas untuk terakhir kalinya.


Kini, jenazah Korrie masih disemayamkan di rumah duka Yayasan RS Cikini Jakarta. "Besok pagi tanggal 20 November 2015, (jenazah) akan diberangkatkan menuju Kutai Barat lewat Balikpapan karena akan dikebumikan di Kubar," Anie menerangkan.

Akun Facebook Korrie langsung dipenuhi ucapan duka cita. Kebanyakan dari pengarang seangkatannya atau penggemar karya-karyanya. Seumur hidupnya, sastrawan angkatan 1970-an itu menulis ratusan judul buku. Di antaranya, Upacara, Suara Kesunyian, Api Awan Asap, Acuh Tak Acuh, Lingkaran Kabut, dan Percintaan Angin.

Tak sedikit dari penyampai ungkapan duka itu, adalah penulis generasi di bawah Korrie yang merasakan kebersahajaan sang penulis. Akun Nadjib Kartapati, misalnya. Mengaku terbantu karena cerita-cerita pendeknya pernah "dipromosikan" Korrie.

"Engkau juga sempat memberikan endorsement pada sampul belakang tiga buah buku karyaku," tulisnya. Nadjib sempat mengunjungi Korrie di rumah sakit, pekan lalu. Tulisnya, saat itu Korrie masih menggebu-gebu membicarakan sastra.

"Kita masih bisa tertawa-tawa," katanya.

Penulis Fanny Jonathans, putri Gerson Poyk pun merasakan kebaikan Korrie. Ia mengaku, bakat menulis berkembang berkat "didikan" Korrie. Sang penulis lah yang dahulu sering memuat karya awal Fanny di Majalah Sarinah.

Itu juga yang dirasakan penulis Pipiet Senja. Noveletnya yang akan dimuat di Sarinah, ternyata batal lantaran majalah itu dinyatakan bangkrut karena krisis moneter. Pipiet menulis di Facebook, Korrie merogoh kocek sendiri untuk "transfusinya."

Sebelum meninggal, Korrie masih terus berkarya. Pada Rabu (11/11) lalu, opininya diterbitkan di sebuah surat kabar besar nasional. Sang penulis curhat soal honorarium. Ia mengaku honornya dari buku-buku yang terbit di Balai Pustaka seret.

Meski begitu, pria 62 tahun itu tidak patah semangat. Ia masih tetap cinta menulis. Ia lah di balik pencetus buku Sastrawan Angkatan 2000. Korrie juga punya cita-cita mulia, seperti yang dituliskan Fanny.

"Saya baca SMS-nya ke ayah saya (Gerson Poyk) beberapa bulan lalu, di mana beliau mengungkapkan keinginannya untuk mendata seluruh penulis sastra di Indonesia."

Selamat jalan, Korrie Layun Rampan... (rsa/vga)