Film yang kaya dengan mitologi, simbolisme dan teologi yang bercerita tentang kehidupan di bima sakti yang terletak sangat, sangat jauh, ini selama beberapa dekade terbukti menjadi peti harta karun bagi para ahli filosofi Planet Bumi.
“Star Wars” mengangkat masalah si baik dan si jahat, kebebasan dan keteguhan, ramalan tentang keberadaan manusia terpilih, dan sifat The Force yang sebenarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini, mereka menanti topik-topik baru untuk dipelajari dari film lanjutan terbaru “Star Wars: The Force Awakens”, yang akan dirilis pada 18 Desember.
“Saya penasaran apakah tema ‘The Force Awakens’ merupakan situasi setelah serangan 9/11, dimana kepastian yang sebelumnya ada digoyahkan dan hal-hal yang kita yakini bisa diandalkan pun terganggu?” kata Kevin Decker, gurubesar filosofi Universitas Eastern Washington dan salah satu pengarang buku “The Ultimate Star Wars and Philosophy.”
Decker, yang telah menonton enam film ‘Star Wars’ sebelumnya lebih dari 100 kali, juga akan memantau perubahan radikal dalam konsep The Force sebagai hakim tertinggi yang menentukan siapa yang baik dan siapa yang jahat.
“Jika, misalnya, ‘The Force Awaken’ berarti seluruh manusia tiba-tiba sadar bisa mempergunakan The Force dan mereka tidak pernah memiliki pelatihan atau pengetahuan tentang itu, ini akan menjadi perubahan mendasar di dunia ‘Star Wars’,” kata Decker.
Spiritualisme memang merupakan tema utama “Star Wars”. Sekitar 15 tahun lalu George Lucas pernah dikutip mengatakan bahwa The Force merupakan perwujudan “satu konsep agama yang berasumsi ada Tuhan dan ada sifat baik dan sifat jahat.”
Caleb Grimes, pengarang buku “Star Wars Jesus”, memandang niat awal Luke Skywalker muda untuk mencari sesuatu yang lebih menggambarkan “keinginan kita untuk mengetahui Tuhan secara langsung.”
Para ahli filosofi mendebatkan apakah droid seperti R2-D2, sadar atau memiliki hati nurani, dan bagaimana hal itu bisa diuji.
Pasukan kerajaan, Imperial Stormtroopers, sejak lama diidentifikasikan seperti pasukan Nazi, dan banyak kelompok feminis memandang bikini metal dan kalung metal Putri Leia di “Return of the Jedi” merupakan gambaran ideal para tiran tentang kecantikan feminin.
Backen, yang begitu sering menonton film-film ini, mengatakan meski tokoh-tokohnya tidak secara aktif bergulat dengan konsep filosofi, film ini membantu menjelaskan pengalaman manusia melalui cerita.
“Dunia Marvel dan ’Lord of The Rings’ sangat popular tetapi mereka tidak memiliki pengaruh budaya seperti ‘Star Wars’,” kata Backen.
Backen mengatakan mata ajaran yang berdasarkan pada ‘Star Wars’ sangat diminati oleh mahasiswanya.
“Ini cara lain para mahasiswa ingin mengemukakan kesukaan mereka dan menjadi bagian dari dunia ‘Star Wars’. Mata ajaran ini memberi kesempatan itu dan mereka belajar banyak filosofi. Semoga.” (yns)