Hal ini diakui Asikin Hasan, seniman lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan kurator Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, saat dihubungi CNN Indonesia.com via sambungan telepon, pada Selasa (5/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak sekadar besar, patung pesanan Bung Karno juga memuat spirit heroik, sebagaimana tergambar di Patung Dirgantara di Pancoran, juga Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng.
“Edhi mungkin satu-satunya pematung yang karyanya dipajang di tengah kota, di bunderan yang bisa dilihat 360 derajat. Tak banyak pematung yang beroleh posisi sebagus itu,” kata Asikin.
Edhi mungkin satu-satunya pematung yang karyanya dipajang di tengah kota, di bunderan yang bisa dilihat 360 derajat. Tak banyak pematung yang beroleh posisi sebagus itu.Asikin Hasan, kurator |
Di ranah seni patung kontemporer yang terus bergerak cepat, menurut Asikin, ide khas Edi tak bisa ditinggalkan begitu saja. Apalagi ia adalah pematung pelopor.
Kala itu, era ’60-an, sebagian besar pematung masih setia dengan tradisi klasik: membuat patung dari kayu atau tanah liat. Namun Edhi “melompat” dan menggunakan medium logam, perunggu.
Kiprah Edhi menciptakan patung perunggu, tentu saja, menorehkan sejarah tersendiri di ranah patung. Ia pun dianggap pematung penting di tengah zaman yang berubah.
Edhi adalah sosok penting di ranah patung modern skala besar. Ia berjasa mengembangkan seni patung realis yang mengisi ruang publik zaman modern.
(vga/vga)