Gambar ini merupakan salah satu ikon Bowie.
"Saya menyebutnya Mona Lisa of Pop," kata Chris Duffy kepada Daily Record. Chris merupakan putra dari Brian Duffy, atau lebih dikenal sebagai Duffy, sosok yang membuat muka Bowie digambar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Chris masih remaja saat itu. Ia mengetuk pintu rumah Bowie.
"Saat itu dia sedang mengerjakan Ziggy Stardust dan saya ingat dia dengan rambut merahnya. Ken Scott di meja rekaman dan Mick Ronson mengisi suara untuk Let's Spend the Night Together," cerita Chris.
Setiap mendengar rekaman Bowie, ingatan Chris langsung melayang ke masa itu.
Chris bangga ayahnya menjadi salah satu pencetak sejarah dalam hidup sang musisi, yang baru meninggal pada usia 69 tahun pada Minggu (10/1) malam. Duffy mengerjakan lima foto sesi Bowie, dengan dada terbuka dan seperti ada kilatan petir di wajahnya.
Sebenarnya, Duffy salah menafsirkan judul yang dimaksud Bowie, Aladdin Sane menjadi A Lad Insane. Namun Bowie ternyata menyukai kejanggalan itu. Awalnya, make up artis membuat tato kilatan kecil di wajah Bowie.
Namun bagi Duffy itu "kurang." Ia lantas mengambil lipstik merah dan menarik garis lebih panjang di wajah Bowie. "Warnai bagian dalamnya. Seperti ini yang saya inginkan," kata sang fotografer. Di luar dugaan, Bowie menyukai kilatan besar itu.
Sejak itu ia lantas merasa punya "koneksi" dengan Duffy. Bowie, yang menyukai simbol petir, langsung ikut menyukai Duffy. Ia pemberi ide, dan Duffy selalu punya cara menginterpretasikan itu secara artistik.
Bowie baru saja merilis album ke-25, Blackstar pada Jumat lalu. Tepat pada ulang tahunnya yang ke-69. Dua hari kemudian, ia meninggalkan segala legenda musiknya. Karya-karya Duffy, yang meninggal lebih dulu pada 2010, dipamerkan di Edinburgh. (yns)