Adanya globalisasi di ranah perfilman Indonesia, di mana investor perfilman asing berdatangan dan berkompetisi dengan lokal, malah membuat senang sang sineas senior.
"Saya senang dengan adanya ini [investor perfilman asing], sebenarnya investasi asing itu tidak masalah," ujarnya kepada awak pers di Plaza Indonesia, pada Jumat (29/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita harus buat perlindungan lokal, jadi kita sejahtera, investor asing juga sejahtera. Kita harus mempersiapkan strategi lokal untuk menyambut datangnya investor perfilman asing."
"Kalau saya sih harus punya strategi baru, yakni mencari dan memperluas jangkauan penonton film-film saya," tutur sutradara film Daun di Atas Bantal, Opera Jawa, dan Soegija.
"Strategi saya adalah saya akan membuat inovasi, yakni dengan menggarap film berwarna hitam dan putih, namun dengan tambahan live orkestra gamelan," papar pria 54 tahun.
Rencananya, film yang Garin maksud itu akan mulai dirilis pada September 2016 mendatang. Tidak hanya itu, Garin pun akan merilis film tersebut di Australia, namun dengan orkestra khas Negeri Kanguru.
"Film-film itu akan saya jadikan film bioskop, itu akan menjadi karakter dari perfilman saya, dengan adanya itu, kita bisa membentuk penonton dan mencari penonton setia," ujar pria kelahiran Yogyakarta.
"Mari kita sambut globalisasi, tapi kita harus punya strategi. Kalau kita tak mempersiapkan strategi itu, kita akan mengalami kemunduran."
(vga/vga)