Sebagaimana diberitakan NME, masyarakat yang ingin mengunjungi Hendrix Museum akan dikenakan biaya sebesar 7,50 poundsterling atau setara Rp145 ribu per orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Butuh waktu sekitar dua tahun bagi panitia untuk merenovasi ulang kamar Hendrix agar terlihat seperti aslinya, dan mengubah rumahnya menjadi museum.
"Kami melakukan riset ke dalam gedung ini dan lingkaran persahabatan Hendrix. Hal itu membantu kami memberikan gambaran seperti apa hidup di jalan Brook Street ini," kata Stranack melanjutkan.
Lebih lanjut, Stranack mengaku sangat bahagia bisa bekerja di dalam kamar Hendrix selama dua tahun belakangan. Namun, ia lebih senang ketika dirinya dapat membuka pintu kamar itu untuk masyarakat umum, terutama penggemar berat Hendrix.
Belum lama ini, pihak keluarga pelantun Spanish Castle Magic itu berusaha mengembalikan salah satu benda warisan sang musisi legendaris, gitar akustik The Black Widow.
Gitar itu ditinggalkann Hendrix saat meninggal dunia pada 1970. Kini, nilanya diperkirakan mencapai US$750 ribu hingga US$1 juta atau sekitar Rp10 miliar hingga Rp13,5 miliar.
Satu hal yang menambah bumbu ketegangan dalam kasus ini adalah pihak keluarga menuduh gitar itu telah dicuri oleh salah seorang anggota grup band lawas Earth, Wind and Fire.
Menurut dokumentasi pengadilan Experience Hendrix LLC, perusahaan yang berwenang mengurus warisan Hendrix, disebutkan Harvey Moltz dari Rainbow Guitars yang kini memegang gitar tersebut sebetulnya tidak berhak sama sekali. (fad/vga)