Dari tahun ke tahun, film yang "dibintangi" hantu nyaris tak pernah absen dari layar lebar maupun layar kaca. Ada yang benar-benar horor, ada pula yang bernuansa komedi atau romansa. Kini, peminatnya tak sebatas di Indonesia, juga di berbagai negara.
Menurut Gandhi Fernando, pemain dan produser film Tuyul: Part 1, pencinta film di Amerika Serikat, Meksiko, hingga Puerto Rico, ternyata sangat menggemari kisah horor Indonesia. Unsur etnik dan budaya yang khas menjadikannya berdaya tarik tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jarang kan film horor yang menggunakan budaya dan etnik dari negaranya sendiri?" kata Gandhi ketika ditemui di kawasan Jakarta Pusat, pada Kamis (3/3). "Padahal hal itu bisa sangat menarik kalau diangkat ke layar lebar," kata pria keturunan India-Manado.
Saat Tuyul: Part 1 diputar di bioskop di New York dan Puerto Rico, sekitar 600 orang rela memadati bioskop untuk menontonnya. Gandhi pun berharap, masyarakat Indonesia tak lagi memandang sebelah mata film horor lokal. Toh ada juga yang berkualitas.
Gandhi menyadari, memang masih banyak film horor Indonesia lain yang tak bertanggung jawab, atau dengan kata lain dibuat asal-asalan. Bukannya mengedapankan sinematografi mumpuni dan unsur seram, tapi malah mengumbar tampilan seksi aktrisnya.
"Semoga film horor lokal [yang berkualitas] enggak dipandang sebelah mata," kata Gandhi penuh harap. "Semoga ke depannya, tak ada lagi film horor yang tak bertanggung jawab, karena itu bisa merusak citra film horor Indonesia."
(vga/vga)