Pengamat musik yang juga merupakan jurnalis musik, Bens Leo, menyampaikan pendapatnya mengenai lagu anak saat ini di Indonesia. Menurutnya, lagu anak masih ada meski tidak banyak yang berhasil pasaran dan dikenal masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang tua dari anak-anak yang memiliki bakat menyanyi harus lebih kreatif, agar lagu anak bisa kembali eksis. Hal ini sudah pernah terbukti, setelah diterapkan oleh beberapa penyanyi lagu anak yang kini terhitung legendaris.
Saat itu, Tasya membuat album yang berisi lagu anak-anak karangan A.T Mahmud dan diaransemen oleh Dian H.P..
Album tersebut dititip edar lewat label musik Sony. Melihat album tersebut laku di pasaran, kemudian Sony membuat label khusus yang menaungi penyanyi anak dengan nama Sony Wonder.
Setelah Tasya beranjak dewasa, Sony Wonder tutup, karena tidak lagi ada lagu anak yang mampu menyamai kepopuleran lagu Anak Gembala.
Sebelum Tasya, hal itu juga dilakukan lebih dulu oleh Sherina.
Di bawah kontrol orang tuanya, Sherina memproduksi lagunya sendiri. Album yang diproduseri oleh Elfa Secoria ini titip edar di label musik milik Tantowi Yahya. Bahkan saat itu, album Sherina terjual hingga 400 keping dalam satu hari.
"Untuk saat itu 400 keping terjual dalam sehari sangat luar biasa. Bayangkan berapa dalam seminggu, pabrik pasti kesulitan mencetak album itu. Bahkan, sampai dibuat film dan sukses juga," kata Leo.
"Saya melihat anak-anak menyanyikan lagu selingkuh, lalu dikomentari oleh juri bahwa teknik vokal sudah bagus, aksi panggung bagus tetapi ekspresinya kurang. Bagaimana bisa seorang anak mengekspresikan selingkuh, sedangkan dia sendiri masih kecil dan belum mengerti artinya?"Bens Leo, pengamat dan wartawan musik. |
Tidak seperti dulu, saat ini televisi di Indonesia seakan kurang tertarik untuk menyiarkan acara untuk mempromosikan lagu anak.
Sekalinya ada, menurut Leo, anak-anak malah diminta membawakan lagu yang sedang hits, agar tayangannya lebih laku ditonton demi mendapatkan iklan.
"Saya melihat anak-anak menyanyikan lagu selingkuh, lalu dikomentari oleh juri bahwa teknik vokal sudah bagus, aksi panggung bagus tetapi ekspresinya kurang. Bagaimana bisa seorang anak mengekspresikan selingkuh, sedangkan dia sendiri masih kecil dan belum mengerti artinya?" ujar Leo miris.
Sependapat dengan Leo, Tasya, yang diwawancara terpisah juga mengkhawatirkan hal yang serupa. Menurutnya, televisi saat ini lebih mementingkan keuntungan.
"Memang sempat ada acara televisi yang mempromosikan lagu anak. Baru sebentar tayangannya sudah di drop karena ratingnya tidak tinggi. Seharusnya kan bisa dikaji dulu seperti, apa baiknya supaya tetap ada," kata Tasya.
Selain itu, penyanyi cilik yang pernah berkolaborasi dengan band Sheila On 7 ini juga mengatakan bahwa kurangnya sanggar anak juga menjadi salah satu faktor langkanya lagu anak.
Ditambah lagi, menurut Tasya, saat ini belum ada yang berani untuk berinvestasi di lagu anak, karena merasa belum tentu mendapatkan keuntungan.
"Lagu anak-anak mungkin tetap ada, tapi semakin kurang ruang untuk promosi. Sehingga lagu anak di Indonesia seperti industri yang hidup segan mati tak mau," ujar Tasya menutup pembicaraan.
(ard)