Padahal sesungguhnya Gerhana Matahari adalah peristiwa alam di mana posisi Bulan berada di antara Bumi dan Matahari. Sejenak, sorot cahaya Matahari tertutup Bulan sehingga membentuk "cincin api."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yunani
Bangsa Yunani kuno menganggap peristiwa Gerhana Matahari adalah wujud kemarahan dewa yang menjadi pertanda hal-hal buruk. Kata "gerhana" berasal dari "ekleipsis," bahasa Yunani kuno yang berarti diabaikan.
Pada masa lalu, masyarakat Vietnam kuno menganggap fenomena Gerhana Matahari terjadi karena kodok raksasa memakan Matahari. Sementara warga China kuno menyakini Matahari "hilang" karena ditelan naga.
Jepang
Orang Jepang kuno mempercayai fenomena Gerhana Matahari adalah wabah berbahaya di mana racun ditebarkan. Demi mengindarkan air Bumi terkontaminasi racun, mereka menutup sumur-sumur yang ada.
Jawa dan India
Mitologi Hindu percaya, peristiwa Gerhana Matahari terjadi karena Rahu, iblis yang kepalanya dipenggal oleh Dewa Wisnu, telah memakan Matahari. Kepercayaan ini sedikit banyak mengingatkan pada kepercayaan Jawa kuno.
Dulu, nenek moyang percaya Gerhana Matahari terjadi akibat ulah Batara Kala, putra Dewa Siwa yang diusir dari kahyangan karena berwujud mengerikan. Dalam pewayangan Jawa, Batara Kala juga digambarkan berwatak rakus.
(vga/vga)