Novel yang dibanderol dengan harga Rp99 ribu ini merupakan buku ke-tujuh Eka setelah Corat-coret di Toilet (2000), Cantik Itu Luka (2002), Lelaki Harimau (2004), Gelak Sedih (2005), Cinta Tak Ada Mati (2005), dan Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014).
Selama delapan tahun, Eka menyelesaikan novel setebal 496 halaman yang berkisah tentang kehidupan seekor monyet bernama O. Sang monyet ingin menikahi Entang Kosasih, Kaisar Dangdut.
Di dunia tempat O tinggal, monyet-monyet harus berperilaku seperti manusia supaya dapat menjadi manusia sebenarnya. O pun melakoni hal itu sebagai bentuk cintanya kepada sang Kaisar Dangdut. Namun konfik-klonflik muncul dan mempersulit proses O menjadi manusia, pun perjalanan cintanya.
Lihat juga:Sastra Empat Era di Mata Eka Kurniawan |
"Tidak niat selama itu. Saya menulis novel ini dari kumpulan cerita-cerita yang belum tahu dibawa ke mana, stuck saja, bahkan sempat mau dibuang. Tapi karena ide topeng monyet empat tahun lalu, saya menemukan titik temu untuk menggabungkannya," kata pria berdarah Sunda itu saat meluncurkan novelnya di Jakarta, pada Minggu (13/3).
[Novel O] menunjukkan kejeniusan Eka [Kurniawan] sebagai penulis kelas dunia. Mirna Yulistianti, Editor Senior Bidang Sastra Gramedia Pustaka Utama |
Mirna Yulistianti, Editor Senior Bidang Sastra Gramedia Pustaka Utama, mengatakan O lebih kompleks dari novel-novel Eka sebelumnya.
“Bingkai-bingkai cerita disusun sedemikian rupa. Tiap bingkai bisa berdiri sendiri tapi bisa juga dinikmati sebagai satu kesatuan novel utuh. Alur masing-masing bingkai saling beririsan. Ini menunjukkan kejeniusan Eka sebagai penulis kelas dunia," ujar Mirna.
Eka mengatakan belum berpikir untuk mengalihbahasakan O ke bahasa lain, sebab dia masih fokus pada alih bahasa dua bukunya yang lain, yakni Lelaki Harimau dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.
Novel Lelaki Harimau juga berhasil mengantar Eka ke jajaran sastrawan dunia hingga pada 2015 jurnal Foreign Policy menobatkannya sebagai salah satu dari 100 pemikir paling berpengaruh di dunia karena berhasil memantapkan posisi Indonesia di peta kesusastraan dunia.
Lelaki Harimau pula yang mencatatkan prestasi gemilang dengan menjadi buku Indonesia pertama yang dinominasikan di ajang penghargaan sastra bergengsi dunia The Man Booker International Prize.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT