Belum lama ini, giliran Hersri Setiawan penulis Indonesia sekaligus mantan tahanan politik 1965 yang kembali ke Pulau Buru setelah puluhan tahun meninggalkannya. Hesri napak tilas, mengunjungi kawan-kawan lamanya yang masih tinggal di sana, dan seperti Tom, berziarah ke makam mereka yang meninggal di bawah kekejaman kala itu.
Perjalanan Hersri "pulang" difilmkan. Sutradara Rahung Nasution menjadikannya film dokumenter yang diberi judul Pulau Buru Tanah Air Beta. Film itu rencananya akan diputar perdana di Goethe Institute Jakarta, Rabu (16/3) sore. Namun rencana pemutaran itu mendadak dibatalkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Padahal kita lihat kontribusi mereka ini luar biasa, memberikan ruang alternatif seperti ini, seperti Bang Pramoedya [Pramoedya Ananta Toer]. Bagi saya itu utang," ujar Rahung menegaskan.
Ia dan timnya menggarap film itu selama sekitar setahun. Setting-nya setengah di Pulau Buru, yang sekitar 30 menit perjalanan pesawat dari Ambon atau delapan jam menyeberang kapal feri, dan setengah lagi diambil gambarnya di Jakarta.
Diakui Rahung, tidak mudah mencapai Pulau Buru dan menjalankan syuting di sana. "Kesulitannya adalah cara ke sana dan dana. Ke sana juga harus minta rekomendasi dari Komnas HAM karena kami bawa tapol, bisa ada pencegatan," ia bercerita.
Setelah setahun dan film rampung, kini waktunya Rahung membuka mata masyarakat soal pemutarbalikan sejarah di Pulau Buru. Ketika filmnya dibatalkan di Goethe Institute, ia masih punya beragam cara untuk menunjukkan karyanya.
Sore ini, Rahung memutarnya secara terbatas di Komnas HAM. Meski tak bisa ke bioskop dan belum dimasukkan ke festival-festival internasional, ia masih punya jalan memanfaatkan media sosial dan komunitas-komunitas kecil seperti di kampus.
"Ini bukan akhir segalanya. Ini justru tantangan kita. Negara seharusnya bertanggung jawab, kenapa polisi jadi intimidator. Ini bentuk copy dari zaman Soeharto," tuturnya dengan nada tegas.
Ini bukan film pertama tentang 1965 yang dilarang putar di Indonesia. Film dokumenter nomine Oscar karya Joshua Oppenheimer, The Look of Silence juga beberapa kali dilarang, termasuk di Ubud Writers and Readers Festival. (rsa/rsa)