Pekan buku di London itu diselenggarakan 12 hingga 14 April 2016. Kalau pada tahun-tahun sebelumnya penerbit Indonesia hadir sendiri-sendiri, kali ini mereka didatangkan secara kolektif. Terdapat 200 judul buku yang dipamerkan.
Buku-buku itu tidak untuk dijual secara fisik, melainkan "memancing" penerbit untuk membeli hak ciptanya. Sebab menurut keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com, London Book Fair berfokus pada jual beli hak cipta dan pengembangan bisnis industri penerbitan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di hari pertama London Book Fair 2016 saja, stan Indonesia yang diorganisasi oleh Komite Buku Nasional, berhasil menjual 12 hak cipta buku kepada penerbit Malaysia. Buku-buku yang terjual kebanyakan panduan bahasa asing.
Nung Antasana, Koordinator Penjualan Hak Cipta Internasional mengatakan, buku panduan dan percakapan bahasa asing memang kerap jadi favorit untuk dibeli.
Bukan hanya itu, penerbit buku terbesar asal Islandia, Forlagid juga menyatakan ketertarikan menerjemahkan buku Eka Kurniawan yang berjudul Cantik Itu Luka. Buku itu sebelumnya telah diterjemahkan ke dalam 24 bahasa dan memenangi World Readers Award di Hong Kong belakangan.
"Mereka menyatakan buku-buku Eka memang sangat cocok dengan penerbit mereka," kata Siti Gretiani, Koordinator Literasi Komite Buku Nasional dalam pernyataan.
Menariknya lagi, penerbit Inggris juga menyatakan ketertarikan terhadap buku-buku Indonesia yang bertema Islam. Salah satu yang telah terjual hak ciptanya adalah Islam, the Message of Love and Happiness karya penulis Haidar Bagir.
Pada Selasa (13/4) yang merupakan hari ke-dua London Book Fair, Indonesia mendapat kesempatan tampil dalam Insight Program yang merupakan salah satu acara unggulan. Indonesia membawa tema Islands of Opportunity, dan berbicara mengenai potensi yang dimiliki, seperti ragam bahasa dan kebebasan berekspresi.