Namun kemeriahan itu ternyata bukan esensi keberadaan ondel-ondel. Di balik rupa dan dandanan meriah ondel-ondel, ia memiliki makna mendalam sekaligus berbau mistik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fungsi mengusir bala tersebut menempatkan Ondel-Ondel dalam acara resmi atau sakral, seperti pernikahan, peresmian tempat tinggal baru, atau upacara lainnya.
Bukan hanya sekadar ciri budaya, ondel-ondel menjadi hiburan masyarakat untuk menyambut tamu di acara-acara sakral tersebut.
"Di era modern ini, banyak boneka Ondel-Ondel untuk cindera mata khas Jakarta dan ada perubahan pada bentuk dari seram menjadi keren. Inilah cikal bakal Ondel-Ondel modern,” tutur Yoyo.
Ada 'Isinya'
Namun perubahan bentuk modern ternyata tak serta merta menghilangkan kisah mistik dari Ondel-Ondel. Hal ini dirasakan betul oleh Hasanuddin dan Andri Black, sedikit dari seniman Ondel-Ondel yang masih tersisa.
Hasanuddin, yang telah mengikuti jejak orang tuanya menjadi seniman Ondel-Ondel dan gambang kromong sejak duduk bangku Sekolah Dasar di awal 1990an, mengisahkan pengalaman mistik tentang boneka kayu tersebut.
"Kalau seseorang mengenakan Ondel-Ondel yang terbuat dari kayu, pasti orang tersebut tidak akan ingat dirinya saat mengenakan Ondel-Ondel," tutur Hasan, sapaan akrabnya, saat dikunjungi CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
"Ondel-Ondel itu ada 'isinya', makanya beberapa dari mereka diberi nama dan makan seperti manusia. Itulah kenapa pemain Ondel-Ondel sanggup jumpalitan dan loncat-loncat. Karena itu bukan mereka yang menggerakkan," kata Hasan.
Ungkapan Hasan juga ditanggapi serupa oleh Andri Black yang serius menggeluti ondel-ondel di Kemayoran sejak dua tahun terakhir. Ia bahkan punya tradisi khusus untuk Ondel-Ondel.
"Dulu Ondel-Ondel hanya ada saat pertunjukan tertentu, dan dipercaya sebagai tolak bala sekaligus penjaga kampung. Dan setiap kali akan tampil menggunakan sesajen, tapi sejak mulai era 2000-an mulai berkurang kepercayaan itu," kata Andri, saat ditemui di lain kesempatan.
Karena Ondel-Ondel dipercaya memiliki 'isi', maka orang-orang dahulu percaya bila ada Ondel-Ondel, baiknya jangan usil terhadap boneka tersebut. Hasan memiliki pengalaman terkait ini.
"Kalau ada Ondel-Ondel tampil, jangan usil tangannya. Pernah ada penonton yang usil, lalu kemudian penunggu Ondel-Ondel marah. Si pemain pun kerasukan hingga malam," kata Hasan.
Percaya tidak percaya, kisah mitologi ini masih ada di kalangan masyarakat Betawi. Terlepas kisah dan mitos yang ada, kehadiran Ondel-Ondel akan terus membawa kemeriahan di setiap acara warga Betawi. Setidaknya, kini Ondel-Ondel tak lagi tampil seram dengan wajah bertaring. (les)