Bukan lantaran ia masih bujang sehingga harus “kursus menjadi ayah” dengan penulis novel/naskah film Sabtu Bersama Bapak, Adhitya Mulya, namun di balik itu, ia pribadi menyimpan kisah sedih bersama ayah kandungnya.
Saat ditemui di sebuah mal di Jakarta, baru-baru ini, Arifin bercerita bahwa kedua orang tuanya telah lama bercerai. Tepatnya sejak 1999, ketika ia masih berusia 13 tahun. "Dan sejak tahun '99 pun aku belum ketemu lagi sama ayah aku," katanya
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimanapun, rasa rindu tetap ada. Ia mengenang, "Khususnya pas awal-awal, karena kan pas umur 13 tahun, apalagi cowok, itu baru mulai kenal pubertas, bandel, baru ngerti cewek itu apa. Alangkah baiknya ada seorang ayah yang bisa ngasih bimbingan."
"Kenangannya positif,” tutur Arifin yang sempat menjadi bolang atau bocah petualang. “Dia kebetulan ada semacam pabrik pengolahan dekat Taman Safari di Puncak. Ada vila juga di sana. Kadang hari Sabtu atau Minggu, jalan-jalan di hutan sekitar situ.”
Meski kebersamaan tak berlangsung lama, Arifin mengaku banyak belajar dari sang ayah, terutama soal ketepatan waktu dan kedisiplinan. Kini, tanpa ayah di sisinya, pemilik nama panjang Putra Arifin Scheunemann ini meneguhkan diri agar mandiri.
Kemandirian mendorong Arifin tegas menentukan pilihan. Apalagi kedua orang tuanya tidak pernah mengekang. Sekalipun tidak disampaikan secara spesifik, diakui Arifin, kedua orang tuanya justru memberikan kebebasan untuk bekerja atau berkuliah.
“Yang penting, kamu selalu seratus persen,” Arifin menirukan kata-kata bijak kedua orang tuanya. “Karena setiap plihan kamu ada konsekuensinya. Jadi kamu harus bertanggung jawab dengan pilihan kamu.’”
[Gambas:Youtube]
(vga/vga)