Karakter Ilona digambarkan tak asing dengan Indonesia, negeri asal Rudy. Ia pernah menjadi perawat di Ambon—pengalaman yang membuatnya jatuh hati pada Indonesia. Diakui Chelsea, bukan hal mudah melafalkan bahasa Indonesia dengan logat asing.
"Saya butuh beberapa lama untuk mempelajari karakter dan bahasa Jerman,” kata sang dara cantik yang berulang tahun pada 2 Juni kepada awak media di Jakarta, baru-baru ini. “Tantangan saya: harus bisa berbahasa Jerman. Itu di luar kapasitas saya.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya keterampilan berbahasa, aktris kelahiran Washington D.C, Amerika Serikat, ini juga harus mengubah penampilannya dengan mengecat rambut menjadi kemerahan dan menatanya agar bergelombang. Aslinya, ia berambut lurus cokelat kehitaman.
Habibie sendiri banyak membantu Chelsea untuk lebih mengenal Ilona, cinta pertamanya saat kuliah di Jerman. “Ilona, salah satu yang percaya sama cita-cita Rudy dan mendukung visi misi Rudy,” kata Chelsea yang memanggil Habibie dengan sebutan Eyang.
Obrolan intensif dengan Eyang Habibie, menjelang proses syuting yang berlangsung selama satu bulan, tak sebatas mengenalkan Chelsea lebih dekat dengan sosok Ilona. Lebih dari itu, ia menangkap kesan Habibie sebagai sosok inspiratif dan genius.
"Dia bisa bikin Crack Progression Theory. Dan teori itu kan sampai sekarang dipakai seluruh dunia. Dan film ini [Rudy Habibie (Habibie & Ainun 2)] memang didedikasikan untuk ulang tahun Eyang. Bisa dibilang, persembahan untuk Eyang," katanya kagum.
Diakui Chelsea, alasannya menerima peran sebagai Ilona lantaran menyukai karakternya. “Ilona semangat nasionalisnya tinggi, padahal dia bukan orang Indonesia. Tapi cinta banget sama Indonesia,” kata Chelsea. “Saya suka karakternya.”
Ilona juga mencintai pemuda Indonesia, siapa lagi kalau bukan Rudy. Ternyata Rudy pun menyimpan perasaan yang sama. Namun ternyata cinta Ilona dan Rudy kepada negara masing-masing jauh lebih besar ketimbang cinta kepada pasangan.
Itulah adegan favorit Chelsea di prekuel ini, saat Ilona dan Rudy berdebat tentang masa depan. “Pada akhirnya [mereka] enggak bisa bersatu. Itu ada kontroversi antara cinta mereka yang beda agama, beda kultur, dan rasa cinta yang lebih besar terhadap negara mereka.”
(vga/vga)