Puisi tersebut dibacakan Taufiq di hadapan ratusan tamu undangan dalam acara Gerakan Kebaikan Keluarga Indonesia, di Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (23/7).
Isi puisi tersebut berkisah tentang seorang anak yang mengenal Taufiq lalu menanyakan kepadanya apakah manusia itu hidup mengejar waktu atau waktu yang mengejar manusia. Pertanyaan tersebut menggugah maestro penyair tersebut hingga mengabadikannya dalam sebuah karya sastra.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui puisinya Taufiq menjawab dengan makna yang mengandung unsur kritik sosial.
Zaman dahulu, lanjut Taufiq yang ada hanya keikhlasan dan kesederhanaan, Model-model Indonesia dahulu digerakkan kebaikan, keikhlasan yang dapat membawa kebahagiaan.
"Kita dulu hidup dalam kebikhlasan dan kesederhanaan," ucap Taufiq.
Ketika ditanya alasan memasukan Pokemon dalam bait puisinya, Taufiq beralasan bahwa Pokemon Go adalah fenomena yang terjadi di masa sekarang.
"Puisi saya ini membandingkan masa dulu dan masa sekarang. Dulu itu seperti apa, dan Pokemon Go ini adalah produk masa sekarang," katanya.
Demam Pokemon Go melanda Indonesia, meskipun permainan ini belum resmi diluncurkan tapi sudah banyak yang sibuk dengan telepon pintarnya. Game berbasis "augmented reality" menjadi menarik karena pemainnya dapat terpacu untuk menangkap tokoh Poket Monsters (Pokemon) yang lokasinya disesuaikan dengan dunia nyata.
Banyak pemberitaan yang menyebutkan ketika pemainnya terpaku dengan gawainya, kesadaran akan sekeliling seakan hilang. Hal ini mengandung resiko entah bertabrakan, menerobos properti orang lain, bahkan melanggar wilayah yang dinilai sebagai tempat suci, sakral dan juga tempat yang pusat keamanan tinggi.
Taufik membacakan tiga puisi yang berkisah tentang Keluarga Indonesia. Puisi pertama tentang bagaimana seorang anak menghormati ibunya, yang telah melahirkannya dan membersarkannya. Bagaimana sehendaknya seorang anak memuliakan orang tuanya di hari ulang tahunnya. (obs)