"Mulai hari ini, film AADC 2 bisa disaksikan di HOOQ," ujar Guntur S. Siboro Country Head HOOQ di Jakarta, Selasa (26/7). Sampai setahun mendatang, AADC 2 hanya bisa disaksikan di situ.
Film yang dibintangi Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo itu baru tayang di bioskop 28 April lalu. Tapi dalam satu setengah bulan, penontonnya sudah mencapai 3,6 juta. Sampai Juli ini, AADC 2 adalah film Indonesia terlaris sepanjang 2016.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini, Guntur menerangkan, film-film Hollywood baru muncul di saluran televisi berbayar minimal 18 bulan setelah tayang. Itu terlalu lama. "Sehingga yang ilegal sudah muncul duluan," ujarnya. Dengan jarak penayangan yang lebih pendek, pembajakan pun bisa dikurangi.
Melalui layanan itu, penonton masih perlu membayar untuk berlangganan. Per bulan tak sampai Rp50 ribu. Pelanggan sudah bisa menikmati film lokal, internasional, juga serial televisi.
Agar layanan itu tidak 'mengganggu' pendapatan film di bioskop, Guntur pun sudah menerapkan strategi pemasaran yang menghormati layar lebar. "Kami tidak pernah mengumumkan bahwa AADC 2 [misalnya] akan tayang di sini. Kalau diumumkan, orang akan malas ke bioskop," ujarnya.
Guntur maupun Dian tidak menyebutkan bagaimana pembagian keuntungan antara rumah produksi dengan aplikasi yang baru diluncurkan April lalu itu. "Yang jelas negosiasi dan pembayaran itu tidak berdasarkan klik," Guntur menerangkan.
Katalog film Indonesia menjadi andalan Hooq (CNN Indonesia/Susetyo Dwi Prihadi) |
Menurut Mira Lesmana sebagai produser AADC 2, cara itu bisa menjadi alat filmnya menjangkau kalangan yang lebih luas. Mungkin ada yang melewatkan film itu April lalu, atau tinggal di daerah pinggiran yang tidak punya bioskop.
"Sulit meraih penonton dengan jangkauan luas," kata Mira, yang diwawancara melalui telekonferensi. "Masyarakat Indonesia juga bisa menghargai insan perfilman dengan fasilitas ini."
Sementara bagi Nicholas, tayangnya AADC 2 secara streaming bisa dijadikan kesempatan bagi penonton untuk lebih fokus memerhatikan detail film. "Bisa lebih fokus dengerin lagunya, atau lihat detail pakaian, atau puisi-puisinya," katanya.
Pelanggan bahkan bisa menonton AADC 2 secara offline. Tapi, dokumennya hanya bisa diunduh terbatas untuk mencegah adanya pembajakan. "Bisa diunduh, tapi cuma bisa dimainkan di player HOOQ. Enggak ada file-nya. Jadi kita punya digital right management yang ketat," kata Guntur lagi. (rsa/vga)
Katalog film Indonesia menjadi andalan Hooq (CNN Indonesia/Susetyo Dwi Prihadi)