Usaha penyelamatan tersebut membuktikan kalau karya Usmar memang layak disebut sejarah yang haram untuk dilupakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita menengok dan belajar dari masa lalu, betapa sejak awal perfilman Indonesia sudah membuat dan membawa keajaiban, hingga masa kini. Oleh karena itu, FFI 2016 mempersembahkan film Tiga Dara karya Bapak Perfilman Nasional, Usmar Ismail, yang telah direstorasi dalam format 4K," kata Lukman Sardi, Ketua FFI 2016, dalam siaran pers di Jakarta pada Rabu (3/8).
Apresiasi itu memang patut diberikan, karena salah satu anggota S.A. Films, Alex Sihar, mengatakan kalau dana restorasi didapatkannya dari banyak donatur, minus pemerintah--pihak yang seharusnya juga ikut peduli dengan pelestarian sejarah.
Tahun ini, FFI memasuki umur penyelenggaraan yang ke-61.
Panitia FFI memiliki rencana untuk mengawali dan mengakhiri penghargaan film paling bergengsi di Tanah Air di tempat bersejarah, dari pembukaan di bisokop Metropole dan malam penghargaan di Taman Ismail Marzuki. Kedua lokasi tersebut berada di kawasan Jakarta Pusat.
Lukman berpendapat, kalau itu perlu dilakukan agar sejarah Indonesia tidak terlupakan oleh anak bangsanya.
"Ketika kita mau menengok sejarah perfilman sendiri, kita mengetahui bahwa pendahulu kita telah menetapkan standar kualitas yang luar biasa pada jamannya. Belajar dari situ dan ini adalah saatnya bagi insan perfilman untuk bisa berkiprah dengan kualitas dan integritas tinggi," kata Lukman.
Ini bukan pertama kalinya film Tiga Dara diputar kembali atas nama memperingati perfilman Indonesia.
Sebelumnya, film ini juga pernah diputar untuk menandai Hari Film Nasional (HFN) 2016.
Kala itu Tiga Dara diputar di bioskop Metropole dengan kapasitas 284 orang dan bioskop Blitz Pasific Place dengan kapasitas 128 orang.
(ard/ard)