Meski berukuran tak begitu besar, karya pematung Yani Sastranegara itu cukup mencolok dan mencuri perhatian.
Selain penempatannya yang tepat di pintu masuk, bentuknya yang unik dengan kombinasi warna hitam dan emas membuat pengunjung berhenti sejenak sebelum bergerak ke patung lainnya yang berderet memenuhi ruang pameran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pameran seni patung yang diusung Asosiasi Pematung Indonesia (API) Jakarta tersebut memamerkan 50 karya terbaik dari 10 seniman. Antara lain karya Agoes Saliem, Agus Widodo, Benny Ronald, Bernauli Pulungan, Budi L. Tobing, Egi Sae, Franky D. Nayoan, Hanung Mahadi, Philips Sambalao, dan Yani Sastranegara.
.
Disampaikan Yani, Sembilan Lingkaraga bukanlah karya yang dibuat khusus untuk pameran kali ini. Yani justru punya gagasan lain, tentang nyanyian fajar, yang dituangkannya lewat patung Serenata Jingga.
Dari tanah tersebut muncul tiga batang kawat yang menjalar ke atas. "Inilah puisi, tanda-tanda yang berbicara pada manusia, yang sekiranya dia bisa menangkap maknanya," ujar Yani menjelaskan.
Sementara jingga, warna yang terdapat di patung, merupakan warna fajar, saat subuh menjelang. Pemilihan waktu fajar didorong oleh anggapan bahwa inilah waktu untuk memulai hari dengan semangat baru yang positif. Semangat memaknai alam.
Seni patung
Selain karya Yani yang puitis, patung-patung yang dibuat Egi Sae juga tak kalah unik, dengan ukuran yang cukup besar dibanding lainnya.
"'Lari,' merupakan karya personal ketika saya bermasalah dengan pacar saya," ujar Egi saat ditemui di pameran, sembari menunjuk patung berupa kaki berukuran besar dengan tiga sosok lelaki mini berlari di atasnya.
Dengan menggunakan teknik distorsi, yang menjadi ciri khasnya, Egi membuat ukuran kaki milik perempuan (dengan rok sebagai penanda) tampak lebih besar dari yang lainnya. Seperti halnya saat melihat sesuatu dari sudut pandang terdekat sehingga tampak lebih besar dibanding lainnya.
Berkat teknik distorsi yang digunakannya ini, pengunjung pameran akan dapat dengan mudah mengenali karyanya. Seperti halnya ketika bertemu dengan patung karya dia yang lain dengan judul, 'Alone.'
Patung ini berupa sepasang kaki berukuran besar dengan posisi menyilang, lalu di ujungnya terdapat sesosok perempuan yang sedang menekuk wajah. Ini menjadi cara Egi menyampaikan proses perenungan, atau menggambarkan bahwa seseorang pernah merasakan kesendirian.
Bazaar kali ini, memang menghadirkan bentuk-bentuk patung yang lebih eksploratif, dengan tema-tema yang dekat dengan keseharian. Hanya saja butuh konsentrasi penuh saat menikmatinya, di antara riuh pengunjung yang ramai, dan ruang pameran yang tidak begitu besar.
Seperti meminjam pesan karya Yani, bahwa seseorang mesti mampu menajamkan panca indra yang dimilikinya. Begitu juga saat berada di pameran ini. (rah/rsa)