Dikutip dari Vanity Fair edisi Oktober, pria yang telah berusia 66 tahun itu mengaku mengalami kehancuran akibat depresinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tidak pernah tahu ukuran masalah kejiwaan. Apakah saya sudah terlalu sakit, seperti ayah saya?" kata Springsteen.
Springsteen juga menceritakan soal depresinya dalam buku memoarnya yang berjudul Born To Run.
Dalam bukunya, ia mengatakan kalau rangkaian konser dan komunikasi dengan penggemar membuat semangat hidupnya terus membara.
Sebaliknya, saat berada di rumah, ia kembali merasa berada di titik terendah dalam hidupnya.
Selain konser dan penggemar, sosok sang istri, Patti Scialfa, juga membantu menata kembali hidupnya yang hancur.
"Begitu tahu saya mengalami depresi, ia langsung menyeret saya ke dokter dan meminta saya untuk diobati," ujar Springsteen.
Masih dalam wawancara dengan Vanity Fair, Scialfa mengatakan kalau ia juga meminta suaminya untuk menulis buku, agar tidak terus memikirkan depresinya.
"Saya menyemangatinya untuk menulis buku, sama seperti ketika ia menulis lagu. Ia jadi memiliki sesuatu yang bisa dikerjakan di rumah. Ia juga sangat baik dalam mengerjakannya," kata Scialfa.
Springsteen telah berkarier di dunia musik sejak 1964. Sepanjang kariernya, bapak dengan tiga orang anak ini telah merilis belasan album, mulai dari Greetings from Asbury Park, N.J. (1973) sampai High Hopes (2014).
Bakat bermusiknya pun telah diganjar penghargaan Grammy Awards, antara lain dalam kategori Best Rock Vocal Performance Male, Best Rock Song, Best Contemporary Folk Album dan Best Song Written Specifically for a Motion Picture or for Television.
[Gambas:Youtube]
(ard)