Menjadikan Solo Sebagai Kota Jazz

M. Andika Putra , CNN Indonesia | Senin, 26/09/2016 19:32 WIB
Menjadikan Solo Sebagai Kota Jazz Selama 7 tahun terakhir, Solo City Jazz menjadi salah satu acara musik yang dinanti di Kota Batik. (Pixabay/schuetz-mediendesign)
Jakarta, CNN Indonesia -- Acara musik tahunan Solo City Jazz (SCJ) kembali diselenggarakan tahun ini. Memasuki penyelenggaraan yang ke tujuh, acara ini akan diselenggarakan dari tanggal 30 September sampai 1 Oktober di Taman Balekambang, Solo.

Tahun ini SCJ menghadirkan musisi kenamaan Indonesia dan musisi lokal Solo. Semua musisi akan tampil dalam satu panggung yang sama.

Tompi, Frau, Seroja Ethnic Project dan Kua Etnika feat Trie Utami akan berbagi panggung dengan musisi lokal Solo seperti B'Fuzz, Michelle Kuhnle, Izanael dan Aditya Ong Quartet.

Selain itu, SCJ juga menampilkan satu musisi asal Spanyol, yakni Rodrigo Parejo Mateos. Ia akan berkolaborasi dengan Tesla Manaf yang merupakan gitaris jazz asal Bandung.

Sejak tahun 2009, acara ini menjadi acara musik alternatif bagi warga Solo atau wisatawan yang sedang mengunjungi kota batik.

”Selama tujuh tahun terakhir, Solo City Jazz jadi ajang yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Kota Solo,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Surakarta, Eny Tyasni Suzana.

Tahun ini SCJ mengusung tema Jazz Up Heritage. Tema itu dipilih karena SCJ akan dibalut dengan citarasa Solo dan banyak unsur budaya di dalamnya. Nantinya pengisi acara dan musisi yang tampil akan mengenakan batik. Kemudian akan ada kolaborasi antara musik tradisional dengan musik modern.

”Acara ini juga bisa memberi kesadaran dalam melestarikan karya budaya bangsa, serta merupakan kendaraan untuk mempromosikan Indonesia khususnya Kota Solo ke mancanegara,” kata Eny.

Tak hanya menyuguhkan penampilan musik, SCJ juga menyediakan ragam kuliner lokal.

Solo City Jazz pertama kali diresmikan oleh Joko Widodo pada tahun 2009 yang waktu itu menjabat sebagai wali kota Solo. Sejak itu, SCJ menjadi salah satu acara musik yang berhasil menyita perhatian warga Solo.