Pasalnya, isi film karya Rahung Nasution tidak lebih menunjukkan adanya sejarah bangsa masa lalu yang keliru dalam menjalankan kehidupan berpolitik, berbangsa dan bernegara.
Pernyataan ini disampaikan oleh Ita Nadia, istri dari Hesri Setyawan, salah satu eks-Tahanan Politik yang dibuang oleh Pemerintah Orde Baru ke Pulau Buru sejak tahun 1969-1979. Ita menjelaskan bila lewat film Pulau Buru tersebut generasi muda bisa tahu dan paham dengan peristiwa sejarah masa lalu khususnya tragedi 1965 tanpa mengungkit atau menyentuh ideologi Komunis yang dibawa PKI.
Lihat juga:'Bunga Penutup Abad' Kehilangan Nyawa Pram |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di film hanya menceritakan seorang anak menanyakan kepada Bapaknya yang merupakan eks-Tapol yang pernah diasingkan di Pulau Buru. Apa yang Bapaknya lakukan di Pulau Buru saat dibuang oleh Pemerintah dan ada apa saja disana?. Jadi apa yang ditolak dan dilarang dalam film ini. Mereka yang menolak atau melarang itu malah yang belum pernah lihat filmnya", terang Hesri yang merupakan mantan aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA), yang dulu dicap sebagai organisasi kaki tangan PKI.
Di Jawa Tengah, pemutaran dan diskusi film ini di lingkup Kampus berjalan lancar beberapa kali meski dengan pantauan aparat tak berseragam (intel). (pit)