Bintang (500) Days of Summer itu memerankan sang pembocor rahasia AS dalam film yang tayang tengah September ini. Ia menjadi Snowden sejak dilatih militer sampai direkrut NSA, menjadi pembocor rahasia, dan pindah ke ekstradisi Rusia.
Film yang juga dibintangi Shailene Woodley sebagai kekasih Snowden itu baru tayang secara midnight di Indonesia. Tapi di beberapa negara itu sudah lebih dahulu ditonton. Salah satunya oleh Chris Inglis, mantan Deputi Direktur NSA.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat Snowden di NSA, ia adalah Deputi Direkturnya. Kini ia sudah tak menjabat.
“Sangat tidak masuk akal. Untuk berbagai alasan,” katanya pada NPR, seperti dikutip dari Independent. “Bahwa seorang deputi direktur sampai menjangkau kontraktor—yang mungkin saja penting tapi di fungsi rendahan—dan meminta mereka melakukan aktivitas seperti Jason Bourne? Itu jelas di luar kewajaran.”
Rekaan itu hanya ada dalam film, yang menyebut dirinya 'dramatisasi dari kejadian sebenarnya' alih-alih dokumenter atau fiksi yang diinspirasi dari kejadian nyata.
Tapi bahkan ‘dramatisasi’ pun bagi Inglis masih terlalu berlebihan. “Dramatisasi bagi saya adalah Anda memberi tambahan sesekali ke poin yang [sudah] jelas.” Misalnya, ia mencontohkan, membawa musisi untuk menambah musik latar.
“Tapi [dramatisasi itu] Anda tidak mengisahkan cerita yang fiksi,” imbuhnya tegas.
Ditanya lebih lanjut soal bagian mana yang menurutnya fiksi, selain permintaan Deputi Direktur NSA terhadap Snowden, Inglis memutar mata seperti sedang kesal. Ia lalu menyebut, salah satunya saat sang musuh AS menyelesaikan tesnya.
Dalam film dikisahkan, untuk tes CIA itu Snowden hanya membutuhkan waktu 38 menit, sementara orang-orang lain rata-rata menyelesaikannya dalam lima jam.
“Jelas dia orang yang cerdas,” kata Inglis. “Tapi NSA punya kebiasaan untuk merekrut orang-orang pintar. Sangat pintar. Juga yang berprinsip. Jadi jelas dia yang terdahulu, diketahui bahwa dia bukan yang terakhir.”
Pihak film Snowden belum berkomentar terhadap pendapat dari NSA itu. (rsa)