Analisis

Arti Peta Indonesia di Film 'Snowden'

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Senin, 10/10/2016 16:00 WIB
Arti Peta Indonesia di Film 'Snowden' Ada peta Indonesia di film tentang Edward Snowden. (REUTERS/Bobby Yip)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jika menonton Snowden dengan detail, mungkin akan menganggap adegan sang pembocor rahasia NSA bersama para petinggi militer China sebagai hal penting.

Adegan itu ada di tengah film yang didominasi perbincangan dengan alur maju-mundur. China merupakan tugas lapangan Snowden sebelum Hawaii, di mana ia akhirnya memutuskan mengungkap ke media bahwa pemerintah AS menyadap dunia.

Joseph Gordon-Levitt yang memerankan Edward Snowden—atau di film ia lebih suka dipanggil Ed Snowden—masih terlihat polos. Matanya bersinar saat diperkenalkan dengan beberapa petinggi China yang ingin memantau kerjanya.


Saat itu Snowden merupakan rekanan NSA. Sejak tes masuk sudah terlihat betapa ia sangat genius. Programnya pun dipakai dan dipromosikan, termasuk ke China.

“Orang-orang [China] ini selalu ingin tahu perkembangan yang kami kerjakan,” terdengar suara Snowden yang menarasikan adegan di China itu.

Adegan itu hanya ditampilkan beberapa detik. Tidak sampai berjam-jam seperti ketika dirinya di Hawaii. Bahkan sutradara Oliver Stone pun seakan hanya ingin menunjukkannya sebagai background, bahwa Snowden pernah kerja di China.

Tapi bagi pengamat detail, adegan terasa luar biasa terutama saat para petinggi China dan Amerika duduk bersama di ruang rapat. Snowden di luar.

Di salah satu dinding ruang rapat itu terpajang sebuah peta besar. Memenuhi satu frame kamera. Pulau-pulau dalam peta itu berwarna biru. Peta Indonesia.

Stone, sutradara pemenang Oscar yang dikenal gemar memasukkan teori konspirasi dalam filmnya, pasti punya alasan khusus memajang peta itu di sana. Itu menyiratkan Indonesia sedang menjadi negara yang diperhatikan.

Mengingat penempatannya yang sangat strategis di ruang rapat, yang dihadiri China dan Amerika, kedua negara itulah yang sedang memerhatikan Indonesia.

Peran Indonesia memang sedemikian pentingnya. Mengutip tulisan Brad Nelson dalam The Diplomat, Indonesia dianggap sebagai negara yang berpotensi paling kuat memimpin di ASEAN, bahkan jika dibanding dengan Singapura. Baik China maupun Amerika, kata artikel itu, ‘berebut’ diplomatik dengan Indonesia.

Stone bisa saja salah dan menempatkan peta Indonesia di ruangan itu hanya sebagai ‘pemanis.’ Indonesia yang terbentang luas dengan pulau beragam bentuk, ‘indah’ dipajang menutupi satu frame kamera, satu sisi dinding.

Bisa jadi alasannya sesederhana estetika. Toh, Stone juga dikritik perkara rubik. Model permainan yang digunakan Snowden untuk meloloskan SD Card berisi data-data penting NSA di Hawaii dalam film, belum muncul pada 2013.

Sementara, itu merupakan tahun Snowden membocorkan rahasia NSA pada media.

Sutradara kelahiran New York, 15 September 1946 itu juga sering dikritik karena memanipulasi pandangan penonton dan mendistorsi sejarah lewat filmnya.

Film kali ini pun disebut ‘dramatisasi dari kisah nyata,’ bukan dokumenter.

Tapi Stone juga sosok di balik kamera untuk film-film seperti Nixon (1995), JFK (1991), Wall Street (1987), dan Born on the Fourth of July (1989). Ia sering berurusan dengan sejarah Amerika, dan tak mungkin menempatkan detail dalam filmnya dengan alasan sekadarnya saja. Termasuk alasan estetika.

Lagipula, Indonesia memang terkena dampak ‘Snowden.’ Tak lama setelah mantan ‘penyembah’ pemerintah Amerika itu membocorkan rahasia negaranya sendiri, terungkap pula bahwa Australia menyadap ponsel presiden Indonesia kala itu.

Susilo Bambang Yudhoyono, Ani Yudhoyono, dan beberapa petinggi lainnya.

Hubungan Indonesia dan Australia pun memburuk. Padahal Australia, yang secara geografis posisinya ‘dihalangi’ oleh Indonesia, butuh negara berpenduduk lebih dari 250 juta orang itu untuk menjembatani ekonomi dan politik.

Australia sendiri termasuk Five Eyes—lima negara yang menyadap negara lain—bersama Amerika Serikat, UK, Kanada, dan Selandia Baru. Oleh The Guardian—media yang dipilih Snowden untuk mengungkap rahasianya—mereka disebut sebagai partner ‘penguping elektronik.’ Mereka bisa tahu seluruh percakapan di dunia.

Kembali ke film Snowden—yang baru masuk ke Indonesia pekan ini—apa pun alasan Stone meletakkan peta Sabang sampai Merauke di ruang pertemuan China-AS di film itu, setidaknya Indonesia diperhatikan penonton Snowden di dunia.

Seperti sebelumnya, saat ‘Jakarta’ diucap Tom Cruise saat memerankan Ethan dalam film Mission: Impossible—Rogue Nation. Perlahan namun pasti, seperti China yang mulai menyeruak di perfilman Hollywood, Indonesia pun dikenal.

Apalagi belakangan semakin banyak selebriti Indonesia yang ikut andil dalam film Hollywood. Mulai Joe Taslim, trio The Raid, sampai Ray Sahetapy.

Lantas apa arti peta Indonesia di ruang rapat China dan Amerika di film Snowden itu? Hanya Stone dan tim produksinya yang punya alasan jelas. Yang lain hanya bisa menerka, sembari mengaitkannya ke kejadian nyata. Yang jelas, penempatan peta itu membuat Indonesia lebih familiar di mata penonton. (rsa/asa)