Kedatangan mereka dalam rangka Dialog Nasional Mendorong Pelembagaan Kebijakan Perlakuan Khusus bagi Korban Kekerasan Masa Lalu. Para korban itu bisa menyampaikan keluh kesan di acara yang digagas Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Acara itu akan mendiskusikan formula penegakan keadilan bagi korban kekerasan masa lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lagu itu seperti menyeruak ‘keluar’ dari tirani Orde Baru yang dahulu memenjarakan mereka hanya karena dicap Partai Komunis Indonesia yang dianggap terkait peristiwa 1965.
Dari balik jeruji besi hatiku diuji
Apa aku emas sejati atau imitasi
Tiap kita menimpa diri, jadi kader teladan
Yang tahan angin yang tahan ujan
Tahan musim dan badai
Meskipun kini hujan deras menimpa bumi
Penuh derita topan badai memecah ombak
Untuk patria tembok tinggi memisah kita
Namun yakin dan pasti masa depan kan datang
Kita pasti kembali
Tidak lama, hanya 12 menit mereka di atas panggung. Tiga lagu dinyanyikan. Salam Harapan, Taman Bunga Plantungan, dan Ujian. Tapi lirik yang mereka sampaikan membuat pendengarnya terpana. Tepuk tangan keras membahana, pujian tertinggi sebelum mereka turun panggung.
Mereka adalah Dialita, kelompok penyanyi yang juga korban kekerasan 1965. Tak heran lagu yang dibawakan terdengar luar biasa. Bukan hanya menghayati. Mereka juga mengalaminya.
Foto: CNN Indonesia/M Andika PutraPenampilan Dialita di Dialog Nasional Mendorong Pelembagaan Kebijakan Perlakuan Khusus bagi Korban Kekerasan Masa Lalu. |
Lirik yang berima, menjadi daya tarik tersendiri. Samar terdengar di kalangan pengunjung, beberapa ikut bernyanyi. Seperti berusaha membantu Dialita menyuarakan keadilan mereka.
Dialita sendiri merupakan akronim, dari ‘Di Atas Lima Puluh Tahun.’ Semua anggota kelompok itu memang berusia di atas 50 tahun. Hanya satu yang tidak. Semua dari Jabodetabek.
Rukmawati bercerita, Dialita dibentuk secara tidak sengaja. Ia dan ibu-ibu korban peristiwa 1965 suka berkumpul dan menyanyi bersama. Akhirnya, mereka membentuk paduan suara. “Awalnya natural, tapi untuk tampil kami minta Pak Martin Lapanguli untuk melatih.”
Seperti anggota Dialita, Martin juga merupakan korban 1965. Ia bahkan ikut diasingkan ke Pulau Buru bersama tapol lainnya, seperti pengarang Pramoedya Ananta Toer. Martin pernah mengenyam sekolah musik di Yogyakarta. Ia kini menjadi andalan bagi Dialita.
Empat tahun sudah Dialita terbentuk. Hingga kini mereka tak lelah memperjuangkan keadilan lewat nada. Setiap Sabtu, mereka bertemu untuk latihan. Itu menjadi alasan suara mereka tak sumbang meski usia sudah senja. Lewat lagu, Dialita berharap didengar pemerintah. (rsa)
Foto: CNN Indonesia/M Andika Putra