Isu ini juga mengusik Teuku Adifitirian atau yang lebih dikenal dengan Tompi. Dokter yang juga penyanyi itu mengatakan isu rasisme makin mengkhawatirkan karena dapat berdampak buruk di masa yang akan datang. Apalagi, kata dia, masih banyak masyarakat yang tidak menelaah informasi lebih jauh sehingga menerima begitu saja apa yang disampaikan orang lain.
Tompi lalu menuangkan keresahannya lewat pameran fotografi yang ia beri tajuk Chinese Ink.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam proses pemotretan, kata Tompi, ia melakukan pendekatan khusus dengan para model. Caranya, ia memberi narasi, lalu model-lah yang akan menyampaikan emosi dengan cara sealamiah mungkin. Tompi lalu memotretnya seolah mereka tak merasa sedang dipotret.
“Usai mengatur suasana studio, dari mulai pencahayaan, format foto, dan kamera, selanjutnya saya biarkan proses pemotretan mengalir untuk merekam karakter dan emosi subyek yang difoto,” ujarnya.
Keseluruhan foto yang dipamerkan, kata Tompi, diambil dengan kamera analog format besar. Ia juga mesti melalui proses cukup lama dengan mencuci film hingga cetak foto di studio kamar gelap yang ia miliki.
Proses dari memotret hingga mencetak foto ini, disampaikannya, memberi kepuasan tersendiri. Terutama di saat kamera digital menjadi tren.
Tompi menuturkan, hasil bidikannya yang dipamerkan kali ini bertujuan untuk menjadi pengingat dan menyadarkan publik, bahwa pada hakikatnya manusia tak berhak menjadi ‘juri’ atau menilai dirinya lebih baik dari orang/ras lain.
Lewat pameran foto Chinese Ink, Tompi menyampaikan kegelisahannya terhadap isu rasisme. (Foto/Courtesy:Tompi) |
Rilis album
Pameran Chinese Ink menjadi bagian dari rencana Tompi dalam perilisan album barunya yang ia beri tajuk Romansa. Album ini sempat tertunda cukup lama sekitar 1,5 tahun, dan dijadwalkan rilis pada 2 November 2016.
Sebagai lagu andalannya, Tompi menyodorkan lagu berjudul Sandiwara. “Pengambilan gambar untuk video musiknya, melalui pendekatan fotografi yang saya kuasai,” ujar Tompi.
Tidak hanya itu, hasil bidikan kamera Tompi juga menjadi sampul album dan gambar pendukung di dalamnya.
Fotografi telah menjadi dunia ke-tiga, setelah kedokteran dan musik, yang ia geluti serius dalam tiga tahun terakhir.
Tompi mengatakan dirinya belajar banyak mengenai fotografi bersama beberapa temannya yang berprofesi sebagai fotografer. Setiap hari, dia membawa serta kamera analog dalam setiap aktivitasnya, sehingga ia merasa menjadi fotografer merupakan profesi profesionalnya yang ke-tiga, setelah dokter dan penyanyi.
Pameran Tompi bertajuk Chinese Ink berlangsung di Galeri Oktagon, Jl. Gunung Sahari Raya No. 50A Jakarta, dari 2 hingga 8 November 2016. (rah)
Lewat pameran foto Chinese Ink, Tompi menyampaikan kegelisahannya terhadap isu rasisme. (Foto/Courtesy:Tompi)