Kini, film tersebut mencoba peruntungannya dengan masuk ke dalam kompetisi program Screen Awards Singapore International Film Festival 2016.
Film yang mengupas tradisi pernikahan dalam adat Timor ini akan bersaing dengan sembilan film dari negara Asia lainnya, baik fiksi maupun dokumenter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pengantar di situs resminya, SGIFF menyatakan Nokas merupakan dokumenter yang menyentuh dalam hal mengungkap tradisi yang jarang terdengar, dan tidak pernah diketahui sebelumnya.
Festival film di Singapura menjadi festival film internasional ke-dua bagi Nokas. Sebelumnya, film ini pernah diputar pertama kali di Eurasia International Film Festival di Kazakhstan, pada September lalu.
Manuel dijadwalkan akan hadir bersama Atalya Taklale, salah satu karakter dari film ini, juga Damar Ardi sebagai ko-produser, serta Litani Tesalonika dari Raketti Films yang mendistribusikan film.
Mengutip rilis yang disampaikan Raketti Films, Nokas menjadi film dokumenter yang fokus mengupas tradisi pernikahan di Kupang. Ada satu kondisi di mana tidak mudah menikahi gadis Timor, karena pihak lelaki biasanya diminta untuk membayar mahar kepada orang tua dan saudara pihak perempuan.
Jumlahnya tidak tentu, tetapi seringkali memberatkan. Tradisi ini kemudian terlihat menjadi seperti transaksi jual beli. Dengan pendekatan observasional, film ini mengikuti usaha Nokas dalam menyiasati biaya pernikahannya.
Singapore International Film Festival 2016 yang menjadi perhelatan yang ke-27 berlangsung dari 23 November hingga 4 Desember 2016. Film Nokas tayang dua kali yakni 29 November di The Arts House (16:30), dan 2 Desember di Filmgarde Bugis (19:00).
Sementara itu, film Nokas dijadwalkan akan diputar pertama kali di Indonesia pada perhelatan Screendocs Expanded, 3 dan 4 Desember 2016 di Erasmus Huis, Jakarta. Pemutaran akan dilakukan pukul 20:00 WIB (3/12) dengan dihadiri produser, sementara pemutaran keesokannya, dijadwalkan pukul 16.30 WIB dengan dihadiri sutradara.
[Gambas:Youtube] (rah)