Oleh karenanya, tak heran jika sosok yang meninggal dunia pada 15 Desember 1966 itu pernah dijuluki sebagai kreator dengan 'emosi abad 19 dalam konflik yang dibuat oleh otak abad 21'.
Disney, kata dia seperti dilansir dari Evolution News, adalah seorang visioner yang futuristik. Ia memandang jauh ke depan dengan menggabungkan nilai-nilai moral dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
/So there's a great, big, beautiful tomorrow/ Shining at the end of every day / There's a great, big, beautiful tomorrow / Just a dream away/
Disney juga pernah mengusung Carousel of Progress, pertunjukan akan perkembangan teknologi terbaru dan canggih, yang berawal di World's Fair di New York kemudian dipindahkan ke Disneyland dan kemudian Walt Disney World.
Optimisme juga dimunculkan Disney lewat area Tomorrowland di Disneyland. Ia juga berencana, tapi tak terlaksana, akan lahirnya Experimental Prototype Community of Tomorrow (EPCOT) di Florida.
Selain nuansa optimistik dan keberanian untuk bermimpi, ia juga menyelipkan pesan akan kesadaran efek penggunaan teknologi berlebihan dalam film 20,000 Leagues Under the Sea.
Dalam Captain Nemo ia kemudian menyelipkan harapan, bahwa nantinya di masa depan akan lahir sebuah dunia baru dan lebih baik.
Lewat buku karangannya yang terbit pada Oktober lalu, John West mengupas juga lebih jauh akan karya-karya film Disney. Mulai dari yang blockbuster seperti 20,000 Leagues Under the Sea, Mary Poppins, and Treasure Island hingga yang jarang dilirik publik seperti Savage Sam and Monkeys, Go Home!.
Di dalamnya juag terdapat 80 potret yang belum pernah dipublikasi sebelumnya, antara lain foto candid Walt Disney saat berada di ruang kerjanya. (rah)