logo CNN Indonesia

Sentuhan Sebotol Anggur dari Israel

, CNN Indonesia
Sentuhan Sebotol Anggur dari Israel
Jakarta, CNN Indonesia -- “Film ini berawal dari sebotol anggur.”

Seperti pengakuan Cheryl Halpern, sang sutradara film dokumenter pendek Wishmakers yang dibuatnya memang berawal dari pertanyaan sederhana tentang anggur. Saat itu ia tengah mengunjungi Israel, dan hendak kembali ke kampung halamannya di Amerika Serikat.

Sebelum pulang, ia ingin membeli sebotol anggur sebagai hadiah untuk temannya. Ia pun mengunjungi toko anggur lokal. “Teman saya bilang, ‘Anda harus mencoba Black Tulip ini,’” cerita Cheryl pada CNNIndonesia.com dalam kunjungannya ke Jakarta beberapa waktu lalu.

Ia penyuka anggur, tapi tak pernah mendengar label itu. Cheryl pun membeli dan mencobanya.

“Rasanya sangat enak,” ujarnya mengungkapkan. Maka hari itu juga ia kembali ke toko tempatnya membeli Black Tulip. Ia berniat membeli lebih untuk dibawa ke Amerika Serikat. Tapi kawannya merekomendasikan hal lain. Ia menawari Cheryl bertemu dengan pemiliknya.

“Memang apa yang spesial?” ia bergumam dalam hati. Tapi sebelum pertanyaan itu terlontar, sang kawan menginformasikan bahwa “Anggur ini diproduksi oleh orang-orang tua dan mereka yang berkebutuhan khusus.” Mereka dipekerjakan dengan penuh martabat dan hormat.

“Mereka dihormati apa adanya. Yang bisa berjalan, bekerja di kebun anggur. Yang ounya jiwa seni, membuat bagaimana anggur itu bisa dijual. Ada lagi yang bisa terlibat di pengemasan. Mereka itu orang-orang yang luar biasa, tak berdosa, penuh dengan kecantikan luar dalam.”

Sang kawan membantu Cheryl menghubungkan dengan pemiliknya langsung. Esoknya, mereka bertemu. Hanya sehari, tapi Cheryl sudah tersentuh. Ia pun berjanji akan bertemu. Bukan sekadar berkunjung atau membeli sebotol dua botol anggur, ia juga memfilmkan mereka.

Wishmakers, judul filmnya. Berdurasi 35 menit, film itu sudah diputar di beberapa negara sejak dirilis Juni lalu. Wishmakers sudah keliling AS, Kanada, London, Eropa, bahkan Indonesia. Hanya Australia yang belum menontonnya. Di Indonesia, film itu menyentuh hati para juri International Film Festival for Spirituality, Religion and Visionary dan World Tolerance Awards. Cheryl pun didapuk dengan penghargaan Tolerance Woman of the Year 2016.

Film Wishmakers memang dibuatnya untuk menyentuh hati para penonton. Di tengah pandangan miring dan diskriminasi yang dilakukan orang kebanyakan terhadap penyandang kebutuhan khusus, Yayasan Wishmakers di Israel justru menyatukan mereka untuk bekerja normal.

“Orang-orang Arab, Suriah, Muslim, Yahudi, berkumpul di sana. Ini mengajari kita tentang hubungan. Semua tinggal bersama, berbagi cerita, dan tersenyum,” Cheryl mengungkapkan.

Komunitas itu sendiri dikenal dengan nama Kfar Tikvah. Bahasa Ibrani yang artinya Desa Harapan. Desa yang terletak di bukit kecil antara Lembah Jezreel dan Ngarai Galilee itu berisi sekitar 200 orang tua yang kurang beruntung soal pengembangan otak dan emosional.

Mengutip Jerussalem Post, desa itu tercipta lewat tangan Dr. Siegfried Hirsch, ilmuwan Yahudi Jerman yang pindah ke Palestina saat Nazi berkuasa pada 1930-an. Ia mendirikan desa itu agar orang-orang tua yang berkebutuhan khusus pun bisa punya kehidupan aktif dan produktif. Ia pun menciptakan kesempatan-kesempatan bagi pengembangan komunitas itu.

Kini, ada lebih dari 100 staf yang menangani komunitas itu. Salah satu kegiatan yang dilakukan Kfar Tikvah adalah mengelola kebun anggur yang dinamakan Tulip Winery. Yithak Yitzaki yang menggagasnya pada 2003, dan kini sudah berkembang pesat di seantero Israel.

Orang-orang Arab, Suriah, Muslim, Yahudi, berkumpul di sana. Ini mengajari kita tentang hubungan. Semua tinggal bersama, berbagi cerita, dan tersenyum.Cheryl Halpern, sutradara Wishmakers
Tapi melalui film Wishmakers, mereka jadi lebih menyentuh dunia. “Film itu sudah menyentuh banyak orang,” kata Cheryl yang ingin filmnya bisa mengubah perilaku orang agar tidak lagi memandang miring para penyandang kebutuhan khusus. Dengan begitu, kerja orang-orang di sana akan ‘terbayar.’ “Kalau Anda ada kesempatan ke sana, pergilah mengunjungi mereka. Katakan Anda telah menonton film mereka, dan Anda menghormati mereka. Itu penghargaan [untuk mereka].”

Cheryl sendiri sudah mendapat banyak penghargaan dari filmnya. Setidaknya tiga penghargaan selama enam bulan terakhir. Tapi ia selalu mengirimkan semua penghargaan yang didapatnya itu kepada mereka. “Itu penghargaan saya, tapi cerita mereka. Jadi penghargaan mereka juga. Mereka jadi bagian dari keluarga, saya masih rutin mengunjungi mereka,” katanya.

International Film Festival for Spirituality, Religion and Visionary dan World Tolerance Awards yang menjadi bagian dari Festival Film bertema Toleransi di Indonesia, digagas oleh sineas Damien Dematra. Ia rutin mengadakan festival film sesuai tema perdamaian.

Tema yang sama seperti yang diusung PBB. “Mereka [PBB] sudah dengar juga, mereka mau dukung tapi kita enggak usah lah,” ujarnya pada CNNIndonesia.com, di malam penganugerahan pekan lalu. Festival film seperti itu dibiayai sendiri, dengan bantuan beberapa sponsor.

Menurutnya, lebih baik seperti itu daripada mengeluarkan banyak uang untuk festival film besar-besaran tapi sekadar seremonial. Ia menyindir FFI yang disebutnya ‘festival film sebelah,’ yang sampai menghabiskan miliaran rupiah, sudah dibantu pemerintah pula.

“Saya paling berapa, untuk makan-makan paling Rp8 juta. Hadiah itu enggak mahal, dan tidak ada hadiah uang. Mereka [para sineas yang datang dari luar negeri] pun ke sini dengan uang mereka sendiri, ada yang dibiayai negaranya. Tidak seperti kita,” katanya mengungkapkan.

Bagi Cheryl sendiri, datang ke negara-negara untuk menghadiri pemutaran filmnya sudah biasa. Ia bahkan pernah diundang langsung bertemu dengan para petinggi PBB untuk itu.

0 Komentar
Terpopuler
CNN Video