Puluhan seniman yang berpartisipasi datang dari berbagai negara di Asia. Meski demikian, Indonesia bisa berbangga, karena tujuh seniman Tanah Air berhasil masuk dalam jajaran itu. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia, bersama China dan India, sebagai negara yang mengirimkan perwakilan terbanyak setelah tuan rumah.
Dari 63 hasil seni yang memanjakan mata dan menambah wawasan itu, CNNIndonesia.com menyimpulkan lima karya yang paling spektakuler.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
The Journey of Panji terdiri dari sebuah gambar yang dibuat di kanvas berukuran besar. Selain gambar, kanvas itu juga ditempeli berbagai jenis huruf yang terbuat dari kayu. Huruf-huruf itu mengalir hingga ke sebuah buku raksasa. Saking melimpahnya huruf yang mengalir, ribuan di antaranya bahkan tumpah ke sisi di luar buku raksasa itu.
Foto: CNN Indonesia/Resty ArmeniaHuruf-huruf mengalir dari garis luar gambar menuju sebuah buku raksasa ringkasan cerita Panji. |
Kreasi menakjubkan Eddy ini mengingatkan kita pada sejarah budaya di Asia Tenggara yang berhubungan. Selan itu, ribuan huruf yang tumpah-ruah dari sebuah buku ringkasan cerita Panji seakan memberikan sugesti soal batasan-batasan akan upaya apa pun untuk menyatukan sejarah-sejarah setiap negara atau merancang kawasan Asia Tenggara menjadi sebuah entitas tunggal.
Foto: CNN Indonesia/Resty ArmeniaRibuan huruf berdesakan keluar dari buku raksasa ringaksan cerita Panji. |
2. Aftermath (Pannaphan Yodmanee, Thailand)
Foto: CNN Indonesia/Resty ArmeniaMural raksasa "Aftermath" karya seniman Thailand, Pannaphan Yodmanee. |
Foto: CNN Indonesia/Resty ArmeniaInstalasi ini bercerita tentang dunia bawah (underworld), dunia masa kini (recent world), dan akhirat (afterworld). |
Foto: CNN Indonesia/Resty ArmeniaMural ini menceritakan tentang ketamakan manusia yang tak henti-hentinya mengeksploitasi bumi dengan mengatasnamakan pembangunan. |
Foto: CNN Indonesia/Resty ArmeniaPengrusakan bumi oleh manusia disimbolkan dengan robohnya bangunan. |
Foto: CNN Indonesia/Resty ArmeniaKemerosotan nilai-nilai agama karena perkembangan zaman dilambangkan dengan hancurnya pagoda-pagoda. |
3. Karagatan, The Breadth of Oceans (Gregory Halili, Filipina)
Menggemakan misteri cermin, instalasi menggugah ini memberikan sebuah sentuhan puitis: saat melihat karya ini, karya ini secara mengerikan melihat kembali padamu.
Karagatan memotret mata para penduduk pedesaan di pesisir pantai di Filipina. Mulai dari nelayan, penyelam mutiara, pembuat perahu, pedagang kerang, hingga anak kecil yang ditemui Halili saat mengerjakan proyeknya ini.
Foto: CNN Indonesia/Resty ArmeniaHalili melukis detail mata masyarakat pesisir pantai Filipina dengan sangat khas dan halus. |
Sebagai miniatur, hasil karya ini memanfaatkan sebuah tradisi kudus yang diasosiasikan dengan pengadilan kerajaan. Namun, di sini, potret-potret mini ini memetakan sebuah komunitas pesisir yang bekerja untuk memanen karunia laut, namun jarang menuai kekayaan.
Halili membayar penghormatan kepada orang-orang yang takdir dan rezekinya bergantung kepada laut, menggambar kebahagiaannya pada induk mutiara yang diperoleh dari dalam laut.
Foto: CNN Indonesia/Resty ArmeniaDari kejauhan terlihat seperti deretan kapal yang melaut di malam hari. |
4. One Has to Wander through All the Outer Worlds to Reach the Innermost Shrine at the End (Qiu Zhijie, China)
Foto: CNN Indonesia/Resty ArmeniaInstalasi yang menggabungkan gambar peta dan pahatan kaca milik seniman China, Qiu Zhijie. |
Serial peta ini menampilkan investigasi Qiu ke dalam sejarah kartografi. Dari analisis arkeologi tentang teori kontak PreColumbian trans-oceanic, hingga kesisteman motif, logika dan metode pendekatan pembuatan peta yang berbeda-beda. Ia menyatukan sejarah, filosofi, mitologi, dan ilmu pengetahuan secara bersama-sama.
Dalam karya ini, sang artis mengemukakan dua elemen yang mendasari hubungan antara pulau hantu, Utopia, dan monster-monster: ketakutan dan godaan. Ketika para petualang dan penjelajah awal ditarik ke tanah yang jauh nan misterius, perjalanan mereka, seperti yang diceritakannya, seringkali terganggu saat mereka bertemu dengan makhluk-makhluk aneh dan luar biasa.
Instalasi Qiu ini juga menampilkan hasil pahatan kaca indah berbentuk monster-monster fantastis yang dibayangkan tengah melintas di antara pegunungan dan lautan seraya menyihir sebuah dunia misteri yang mungkin pernah ada di luar sana namun sekarang telah menghilang.
5. The Great East Indiaman (David Chan, Singapura)
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia"The Great East Indiaman," karya yang menggabungkan fakta dan fiksi ciptaan seniman Singapura, David Chan. |
Di lokasi kemenangan tokoh pria protagonis asal Eropa ini, Chan ingin menyusun kembali narasi tersebut sebagai suatu kisah fantastis dari sebuah spesies paus, yang dulunya adalah mitos dan sekarang telah punah, yang membawa Raffles ke semenanjung ini. Dalam cerita rakyat yang dibuat ini, spesies paus yang disebut “East Indiaman” itu dijinakkan sebagai binatang laut milik manusia dengan beban.
Meskipun demikian, kisah orisinal Chan juga didasarkan pada penelitian sejarah yang kuat: dari abad ke-17 hingga ke-19, East Indiaman adalah nama generik untuk setiap kapal milik English East India Company, dan itu berada di salah satu kapal dagang yang dipakai Raffles untuk berlayar mencapai Singapura.
Kreasi ini terbuat dari baja yang dilas dan beton berukuran 2,4 x 0,5 x 1,8 meter. Karya yang diletakkan di depan pekarangan National Museum of Singapore itu juga mengingatkan pengunjung akan kerangka seekor paus sirip India yang pernah menjadi ‘ikon’ museum itu, sebelum akhirnya dikembalikan di negara asalnya, Malaysia. (res/gil)
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia
Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia