Namun aturan baru Presiden AS Donald Trump membuat hal itu menjadi mustahil.
“Kami selalu mengatakan bahwa jika kami masuk nominasi, kami akan membawa Raed Saleh, kepala White Helmets dan Khaled Khateeb,” kata produser Joanna Natasegara, Sabtu (28/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Film White Helmets sendiri merupakan garapan Orlando von Einsiedel. Itu merupakan dokumentasi yang menunjukkan upaya White Helmets. Mereka bekerja di bawah desing peluru dan dentum bom, berusaha dengan segera menyelamatkan para korban perang di Suriah.
Mereka bukan satu-satunya ‘korban’ kebijakan Trump melarang masuknya imigran dari tujuh negara Muslim, dengan klaim mereka berpotensi melakukan aksi terorisme. Selain seluruh umat Muslim, nomine Oscar seperti aktris dan sutradara Iran untuk film The Salesman pun tak bisa hadir di karpet merah karena mereka termasuk negara yang ‘terlarang’ masuk AS.
Sineas untuk dokumenter pendek lain, Watani: My Homeland, yang juga masuk nominasi Oscar tahun ini, pun mengungkapkan kekecewaannya. Film itu sendiri mengisahkan hidup keluarga pengungsi setelah direlokasi dari kampung halaman di Aleppo ke rumah baru di Jerman.
Marcel Mettelsiefen sang sineas mengatakan, “Pelarangan dari Presiden Trump adalah kehancuran lain untuk pengungsi yang sudah begitu menderita.”
Sementara Trump bersikeras melarang pengungsi, menurut Mettelsiefen filmnya bisa memberi pandangan lain. Watani: My Homeland membeberkan sisi humanis dari para pengungsi.
“Kita harus kembali terkoneksi dengan sisi humanis dari apa yang sudah dialami pengungsi dan kita harus ingat bahwa cerita awal terbentuknya Amerika adalah karena orang-orang yang melarikan diri dari perang, kelaparan dan kemiskinan untuk mencari hidup lebih baik.”