Sosok yang berani menentang anggapan bahwa panggung hiburan adalah simbol ‘kebejatan moral’ di Arab itu bernama Mohammed Abdu, seorang penyanyi populer di dunia Arab.
Penampilannya kemarin merupakan konser besar pertama dalam tujuh tahun terakhir di Jeddah. Tapi dibanding kota lain, Jeddah memang lebih moderat, masih boleh dimasuki nonmuslim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka antusias mendengar musik Abdu yang romantis sekaligus patriotis.
Mengutip AFP, nyanyian Abdu saat itu diiringi oleh orkestra dari Mesir. Beberapa artis Arab lain ikut tampil memeriahkan konser, termasuk Rabeh Sager. Penyanyi asal Irak, Majid al-Muhandis pun bisa disaksikan malam itu.
Itu seharusnya menjadi penampilan ke-dua Abdu selama enam bulan terakhir. September lalu ia dijadwalkan tampil di Riyadh. Namun konsernya mendadak dibatalkan tanpa penjelasan dan alasan yang jelas.
Jika jadi tampil, itu akan menjadi konser live pertama di Riyadh selama 24 tahun terakhir.
Tapi dunia hiburan di Arab Saudi tengah bergejolak. Seperti diketahui Kerajaan telah melarang alkohol dan bioskop publik, begitu pula konser. Pada prinsipnya, apa pun yang memungkinkan perempuan dan laki-laki bergabung meski di ruang publik.
“Kita tahu bahwa konser menyanyi dan bioskop itu kebejatan moral,” kata ulama besar Abdulaziz al-Sheikh awal bulan ini, yang dikutip surat kabar lokal Sabq.
Foto: AFP PHOTO / AMEER ALHALBIMohammed Abdu, 'Paul McCartney' dari Arab Saudi. |
Pemimpin ‘reformasi’ itu adalah Deputi Pangeran Mohammed bin Salman. Tentu saja, keputusan sang pangeran berusia 31 tahun itu mendapat tentangan dari pihak agamis dan konservatif. (rsa)
Foto: AFP PHOTO / AMEER ALHALBI